Hidup Yang Benar Menurut Alloh dan Rosul-Nya

26 Januari 2010 pukul 8:07 AM | Ditulis dalam Daftar Artikel: | 3 Komentar

Alloh SWT menciptakan manusia memiliki tujuan dan maksud yang pasti, bukan untuk iseng atau main-main, sebagaimana Firman-Nya berikut ini:

Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di dalamnya dengan main-main (iseng, tanpa ada tujuan yang pasti)….? Qs 21:16.

Adapun tujuan Alloh SWT menciptakan manusia ialah hanya untuk ibadah (taat/ngabdi/bakti) kepada-Nya secara totalitas dalam seluruh aspek kehidupan ritual keagamaan dan sosial kemasyarakatan:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku Qs 51:56.

Yang disebut dengan ibadah (taat / ngabdi / bakti) menurut ajaran Dinul Islam adalah melaksanakan aturan dan perintah Alloh SWT yang telah termaktub dalam  Kitab-Nya (Al-Qur’an & Sunnah) yang diselenggarakan secara totalitas dalam seluruh aspek kehidupan di bawah naungan Lembaga Dinul Islam atau Mukiyah Islam (Sistem Pemerintahan Islam / Daulah Islam / Khilafah Islam).

Ruang Lingkup Ibadah dalam Dinul Islam (Islam Kaffah):

(1)   Ibadah Mahdoh= Ibadah Ritual (Hablum Minalloh).

Yaitu aktifitas ibadah (ketaatan / pengabdian / bakti suci) kepada Al-Malik (Penguasa / Pemerintah) yang haq dalam bentuk ritual  keagamaan seperti yang telah dicontohkan oleh Rosululloh SAW dan pengikutnya. Berikut ini ruang lingkup ibadah mahdoh yang telah dicontohkan oleh Rosululloh SAW dan pengikutnya yang terdahulu:

  • Ikrar Syahadat dihadapan penyelenggara Dinul Islam atau Lembaga Mulkiyah Islam (Sistem Pemerintahan Islam / Daulah Islam / Khilafah Islam) yang berwenang.
  • Thoharoh (Mandi, wudlu, tayamum, istinja, mencuci, dan lain-lain).
  • Sholat (Sholat wajib dan sunnat).
  • Shaum (Shaum wajib dan sunnat).
  • Zakat (Infaq, Shodaqoh, zariyah, hibah, hadiah).
  • Ibadah Haji (Seluruh rangkaian ibadah haji).
  • Do’a, Dzikir, Tilawah, Ziarah Kubur, Idul Fitri,  Idul Adha atau Idul Qurban dan lain-lain yang bersifat ritual dalam Agama Islam.

(2)  Ibadah Ghoir Mahdoh=Ibadah Sosial (Hablum Minannas).

Yaitu aktifitas ibadah (ketaatan / pengabdian / bakti suci) kepada Al-Malik (Penguasa / Pemerintah) yang haq dalam bentuk sosial kemasyarakatan seperti yang telah dicontohkan oleh Rosululloh SAW dan pengikutnya. Berikut ini ruang lingkup ibadah ghoir mahdoh yang telah dicontohkan oleh Rosululloh SAW dan pengikutnya yang terdahulu:

  • Syiasah atau Khilafah yakni masalah politik; ketatanegaraan, kepemimpinan, pemerintahan, jihad/perang (qital), militer, birokrasi, dan lain-lain.
  • Jinayah yakni masalah perundang-undangan dan hukum pidana/perdata (KUHP).
  • Muamalah yakni masalah perekonomian; perdagangan, ekspor-impor, simpan-pinjam (perbankan), pertanian, kelautan, kehutanan, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, teknologi, dan lain-lain.
  • Munakahah yakni masalah berkeluarga; pra nikah, syarat & rukun nikah, pasca nikah, fungsi & peran suami-istri dalam keluarga, nafkah, perceraian, pendidikan anak, bertetangga, dan lain-lain.

Catatan: Prosedur pelaksanaan ibadah yang benar menurut Alloh dan Rosul-Nya baik ibadah mahdoh maupun ibadah ghoir mahdoh harus dilaksanakan dibawah Naungan Lembaga Dinul Islam atau Mulkiyah Islam (Sistem Pemerintahan Islam / Daulah Islam / Khilafah Islam) seperti yang telah dicontohkan oleh Rosululloh SAW dan para sahabat serta umat Islam terdahulu.

Syarat Diterima Amal Ibadah Berlandaskan Sunnah (Perjalanan Sejarah) Rosululloh SAW & Para Sahabat:

  1. Beriman kepada rukun Iman yang 6 (Enam) secara utuh.
  2. Telah mengikrarkan dua kalimah syahadah dihadapan penyelenggara Agama Islam yang ada dibawah naungan Lembaga Dinul Islam / Mulkiyah Islam (Daulah Islam / Khilafah Islam) yang berwenang.
  3. Dilaksanakan dalam kontek Agama Islam yang ada dibawah naungan Lembaga Dinul Islam / Mulkiyah Islam (Sistem Pemerintahan Islam atau Daulah Islam atau Khilafah Islam), bukan dalam kontek Agama Islam yang ada dibawah naungan Lembaga Dinul Jahiliyah atau Mulkiyah Jahiliyah (Daulah Thogut / Khilafah Thogut).
  4. Harus menolak eksistensi Lembaga Dinul Jahiliyah, yakni sistem pemerintahan atau sistem kerajaan yang menolak wahyu Alloh sebagai pedoman dan undang-undang tertinggi dalam menata dan mengatur masyarakat dan negaranya.
  5. Berpedoman kepada Rububiyah Alloh (aturan dan hukum) yang bersumber dari Wahyu Alloh (Al-Qur’an & Sunnah).
  6. Harus menolak segala bentuk Rububiyah Thogut (ajaran; syari’at, aturan, undang-undang dan hukum) yang bersumber dari produk manusia (SELAIN ALLOH).
  7. Ittiba kepada Muhammad Rosululloh, yaitu mengikuti tata cara ibadah (pengabdian) kepada Alloh SWT seperti yang telah dicontohkan oleh Rosululloh SAW baik dalam pelaksanaan ibadah mahdoh maupun ghoir mahdoh.
  8. Mukhlis (tidak musyrik), yakni tidak meyakini, mengakui atau menerima bahwa di luar Alloh SWT ada sesuatu yang memiliki titik sama; setara, semisal atau sebanding dengan keberadaan Alloh SWT, baik dalam hal Dzat-Nya, Sifat-Sifat-Nya, Asma-Nya, Af’al-Nya, Rububiyah-Nya, Mulkiyah-Nya atau dalam hal Uluhiyah-Nya.
  9. Ikhlas, yakni tujuan melaksanakan ibadah mahdoh dan ghoir mahdoh semata-mata hanya untuk mengharapkan ridho Alloh (keselamatan di akhirat) tidak ada tujuan lain.

Kesimpulan:

Jadi hidup yang benar menurut Alloh dan Rosul-Nya adalah hidup yang hanya dijadikan ibadah (taat/ngabdi/bakti) kepada Alloh saja secara totalitas dalam seluruh aspek kehidupan (mahdoh & ghoir mahdoh) Qs 51:56, sedangkan ibadah yang diterima oleh Alloh SWT hanyalah ibadah yang dilaksanakan dalam Agama Islam, sedangkan Agama Islam yang benar dari sejak Nabi Adam Alaihissalam sampai Nabi Muhammad SAW bahkan hingga akhir zaman HANYALAH Agama Islam yang ada di bawah naungan Lembaga Dinul Islam atau Mulkiyah Islam (Sistem Pemerintahan Islam atau Daulah Islam atau Khilafah Islam), bukan Agama Islam yang ada di bawah naungan Lembaga Dinul Jahiliyah atau Mulkiyah Jahiliyah (Pemerintahan Jahiliyah), sebagaimana firman Alloh SWT berikut ini;

Sesungguhnya agama (yang diridhoi) disisi Allah hanyalah Agama Islam (yang ada di bawah naungan Lembaga Dinul Islam atau Mulkiyah Islam atau Daulah Islam atau Khilafah Islam). Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) diantara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya Qs 3:19.

Barangsiapa yang mencari selain Agama Islam (yang ada di bawah naungan Lembaga Dinul Islam atau Mulkiyah Islam atau Daulah Islam atau Khilafah Islam), maka sekali – kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya dan di akhirat kelak ia akan digolongkan dengan orang – orang yang merugi (sia-sia) Qs 3:85.

Catatan:

Yang dimaksud dengan Lembaga Dinul Islam atau Islam Kaffah atau Mulkiyah Islam atau Daulah Islam atau Khilafah Islam atau Pemerintahan Islam adalah sebuah tatanan atau sistem hidup masyarakat atau sebuah lembaga mulkiyah (pemerintahan) yang menjadikan wahyu Alloh (Al-Qur’an & Sunnah) sebagai satu-satunya sumber aturan dan hukum yang haq untuk dijadikan pedoman dalam menata dan mengatur masyarakat dan negaranya secara totalitas dalam seluruh aspek kehidupan ritual keagamaan (mahdoh) dan sosial kemasyarakatan (ghoir mahdoh), tanpa terkecuali. Seperti halnya Lembaga Dinul Islam atau Islam Kaffah atau Mulkiyah Islam atau Daulah Islam atau Khilafah Islam atau Pemerintahan Islam yang telah diproklamasikan oleh Rosululloh SAW di Yatsrib (Madinah) padahal wilayah tersebut sebelumnya merupakan wilayah kekuasaan Negara Jahiliyah Mekkah yang dipimpin oleh Abu Jahal Cs.

Yang dimaksud dengan Lembaga Dinul Jahiliyah atau Mulkiyah Jahiliyah (Pemerintahan Jahiliyah) adalah sebuah tatanan atau sistem hidup masyarakat atau lembaga mulkiyah (kerajaan atau pemerintahan) yang menolak wahyu Alloh (Al-Qur’an & Sunnah) sebagai sumber tertinggi dalam menata dan mengatur seluruh aspek kehidupan ritual keagamaan (mahdoh) dan sosial kemasyarakatan (ghoir mahdoh), mereka malah membuat aturan dan hukum sendiri, seperti halnya Lembaga Dinul Jahiliyah atau Mulkiyah Jahiliyah (Pemerintahan Jahiliyah atau Daulah Jahiliyah atau Khilafah Jahiliyah) yang dipimpin oleh Fir’aun di zaman Nabi Musa, Raja Namruz di zaman Nabi Ibrohim, dan Abu Jahal Cs di zaman Nabi Muhammad SAW.


Sesungguhnya agama (yang diridhoi) disisi Allah hanyalah Agama Islam (yang ada di bawah naungan Lembaga Dinul Islam atau Mulkiyah Islam atau Daulah Islam atau Khilafah Islam). Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) diantara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya Qs 3:19.

Barangsiapa yang mencari selain Agama Islam (yang ada di bawah naungan Lembaga Dinul Islam atau Mulkiyah Islam atau Daulah Islam atau Khilafah Islam), maka sekali – kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya dan di akhirat kelak ia akan digolongkan dengan orang – orang yang merugi (sia-sia) Qs 3:85.

AQIDAH-TAUHID

26 Oktober 2010 pukul 7:11 PM | Ditulis dalam Aqidah-Tauhid | Tinggalkan komentar
Tag:

Ruang Lingkup Aqidah-Tauhid Dalam Dinul Islam (Islam Kaffah).

A.   Tauhid Hakikiyah (Teoritis).

  1. Tauhid fii Dzat Alloh.
  2. Tauhid fii Sifat Alloh.
  3. Tauhid fil Asma’ Alloh.
  4. Tauhid fii Af’al Alloh.

B.   Tauhid syar’iyah (Praktis).

  1. Tauhid Rububiyah (Aqidah Rububiyah).
  2. Tauhid Mulkiyah (Aqidah Mulkiyah).
  3. Tauhid Uluhiyah (Aqidah Uluhiyah).

Pengertian Aqidah.

A.   Pengertian Aqidah Menurut Bahasa (Lughot):

Kata Aqidah berasal dari asal kata; Aqoda – Yaq’idu – Aqidatan, yang berarti; ikatan, perjanjian, janji setia, sumpah, atau komitmen.

B.   Pengertian Aqidah Menurut Etimologi Qur’an;

a)     Perjanjian ( Bil’uquudi )  Qs 5:1.

b)     Ikatan ( ‘Uqdatan ) Qs 2:235.

c)     Sumpah / perjanjian yang disengaja ( ‘Aqottum  ) Qs 5:89.

d)     Sumpah setia / Komitmen ( ‘Aqodat )  Qs 4:33.

e)     Kaku / Terikat    ( ‘Uqdat )   Qs 20:27.

f)      Buhul / ikatan tali yang mengikat dengan kuat ( Fil ‘Uqodi  )  Qs 113:4.

Jadi yang dimaksud dengan aqidah menurut lughot (bahasa) adalah ikatan yang lahir dari sebuah perjanjian atau sumpah yang dilakukan oleh seseorang secara sadar yang selanjutnya ia akan senantiasa terikat secara totalitas oleh isi perjanjian yang telah disepakatinya, seperti halnya contoh dalam aqad atau perjanjian dalam sebuah pernikahan atau aqad dalam jual beli.

C.  Pengertian Aqidah Menurut Syara’ (Menurut Alloh dan Rosul-Nya):

Adalah ikrar janji atau sumpah setia seorang hamba dengan Alloh SWT yang disaksikan secara syari’at oleh Rosul-Nya atau Ulil Amri-Nya yang berwenang, sebagai pernyataan atau proklamasi diri bahwa ia siap untuk meninggalkan Agama yang ada di bawah Naungan Lembaga Dinul Jahiliyah (Sistem Pemerintahan Jahiliyah) dan siap untuk berhijrah ke dalam Agama Islam yang ada di bawah naungan Lembaga Dinul Islam (Sistem Pemerintahan Islam atau Islam Kaffah) yang selanjutnya ia siap untuk dibimbing dan dibina menjadi mu’min / muslim yang beraqidah-tauhid totalitas, bersyari’at Islam totalitas dan berakhlaq Islam totalitas (kaffah) dalam seluruh aspek kehidupan dengan tujuan hanya untuk mengaharpkan keselamatan sejati di akhirat kelak (Mardhotillah).

Seperti halnya yang telah dilakukan oleh Siti Khodijah r.a, Abu Bakar r.a, Umar bin Khotob r.a, Utsman bin Affan r.a, Ali bin Abi Tholib r.a dan seluruh para sahabat berserta umat Islam terdahulu; mereka telah menyatakan ikrar sumpah / janji setia kepada Alloh SWT yang disaksikan secara syari’at oleh Rosululloh SAW selaku pimpinan Lembaga Dinul Islam (Sistem Pemerintahan Islam atau Islam Kaffah) saat itu.

Mereka menyatakan ikrar janji tersebut sebagai pernyataan sumpah atau janji setia kepada Alloh dan Rosul-Nya bahwa mereka siap untuk meninggalkan Agama Hanif, yakni Agama Nenek Moyang atau Islam turunan atau  Islam Millah Ibrahim yang ada di bawah naungan Lembaga Dinul Jahiliyah (Pemerintahan Jahiliyah) Mekkah yang dipimpin oleh Abu Jahal Cs kemudian selanjutnya mereka siap untuk hijrah ke dalam Agama Islam yang ada di bawah naungan Lembaga Dinul Islam atau Mulkiyah Islam (Pemerintahan Islam) yang dipimpin oleh Rosululloh SAW saat itu, kemudian mereka siap untuk dibimbing dan dibina jadi mu’min dan muslim sejati yang beraqidah-tauhid, bersyari’at dan berakhlaq Islam secara kaffah (totalitas) dalam seluruh aspek kehidupannya dengan hanya mengharapkan keselamatan sejati di akhirat kelak, tidak ada tujuan dan orientasi lain kecuali mardhotillah.

Jadi yang disebut dengan orang yang beraqidah-tauhid atau orang yang beraqidah Dinul Islam di zaman Rosululloh SAW adalah orang yang memiliki ikatan janji atau orang yang telah menyatakan ikrar janji atau sumpah setia atau komitmen kepada Alloh dan Rosul-Nya bahwa mereka siap untuk meninggalkan Agama yang ada di bawah naungan Lembaga Dinul Jahiliyah (Mulkiyah Jahiliyah atau Pemerintahan Jahiliyah) dan siap untuk hijrah ke dalam Agama Islam yang ada di bawah naungan Lembaga Dinul Islam atau Islam Kaffah (Mulkiyah Islam atau Pemerintahan Islam).

Ciri khas orang yang beraqidah-tauhid atau orang yang beraqidah Dinul Islam secara kaffah (totalitas) dalam seluruh aspek kehidupannya adalah:

1. Hanya menerima eksistensi Dzat Alloh saja dan menolak segala bentuk dzat thogut.

2. Hanya menerima eksistensi Sifat Alloh saja dan menolak segala bentuk sifat thogut.

3. Hanya menerima eksistensi Asma’ Alloh saja dan menolak segala bentuk nama-nama thogut.

4. Hanya menerima eksistensi Af’al Alloh saja dan menolak segala bentuk kinerja thogut.

5. Hanya terikat secara totalitas oleh Rububiyah Alloh saja dan menolak segala bentuk rububiyah thogut.

6. Hanya terikat secara totalitas oleh Mulkiyah Alloh saja dan menolak segala bentuk mulkiyah thogut.

7. Hanya terikat secara totalitas oleh  Uluhiyah Alloh saja dan menolak segala bentuk uluhiyah thogut.

Pengertian Tauhid.

A.   Pengertian Tauhid Menurut Bahasa (Lughot).

Kata tauhid merupakan bahasa Arab yang berasal dari akar kata; Ahad atau Wahada – Yuwahidu – Tauhidan; yang berarti: satu, tunggal atau esa.

Jadi yang dimaksud dengan ilmu tauhid adalah ilmu yang mempelajari tentang rukun iman yang pertama yakni; ilmu yang mempelajari tentang meng-Esa-kan Alloh dalam hal; Dzat-Nya, Sifat-Sifat-Nya, Asma’-Nya,  Af’al-Nya, Rububiyah-Nya, Mulkiyah-Nya dan Uluhiyah-Nya.

Penjelasan Ruang Lingkup Materi Tauhid (Perkara Yang Wajib Ditauhidkan dari tentang Alloh SWT):

1. Tauhid Hakikiyah atau Tauhid Teoritis (Tauhid dalam tataran akal, hati dan lisan).

Yaitu ajaran tentang meng-Esa-kan Alloh yang masih bersifat melangit, dimana tauhid hakikiyah atau tauhid teoritis ini ruang lingkupnya hanya sebatas dalam tataran akal dan keyakinan yang bersifat melangit, belum dalam bentuk tataran syari’at, aturan atau perundang-undangan nyata yang diterapkan dalam tatanan hidup bermasyarakat dan bernegara.

Yang termasuk ke dalam kelompok ajaran tauhid hakikiyah atau tauhid teoritis adalah:

1. Tauhid fii Dzat Alloh (Meng-Esa-kan Alloh dalam hal Dzat-Nya).

Yaitu meyakini, mengakui dan menerima bahwa Dzat Alloh atau Tuhan itu hanya ada satu, tidak dua, tidak tiga, dst. Langit dan bumi beserta seluruh isinya; manusia, hewan, binatang, tumbuhan, matahari, bulan, bintang, planet dan lain-lain; tuhannya hanya satu, yakni Alloh Qs 112:1-4.

ö@è% uqèd ª!$# î‰ymr& ÇÊÈ   ª!$# ߉yJ¢Á9$# ÇËÈ   öNs9 ô$Î#tƒ öNs9ur ô‰s9qムÇÌÈ   öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7‰ymr& ÇÍÈ

1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

4. Dan tidak ada sesuatupun  yang setara dengan Dia.”

Dzat Alloh tidak berbentuk jauhar1 dan tidak pula berbentuk jisim2, sehingga keberadaan bentuk Dzat Alloh tidak akan pernah bisa ditemukan oleh panca indera, tidak akan pernah bisa dibayangkan oleh akal dan tidak akan pernah bisa diilustrasikan dengan sesuatu apapun, karena antara bentuk Dzat dengan Jauhar atau Jisim itu tidak ada titik sama sedikitpun. Akan tetapi keberadaan Dzat Alloh hanya dapat ditemukan oleh qolbu (jiwa) orang-orang yang hidupnya beraqidah – tauhid, yakni oleh hati orang-orang yang siap untuk menerima eksistensi Alloh SWT secara totalitas (kaffah) dalam seluruh aspek kehidupannya. Antara bentuk Dzat Pencipta (Kholiq) dengan bentuk yang diciptakan-Nya (makhluq) pasti tidak akan pernah ada titik sama sedikitpun. Keberadaan Dzat Alloh lebih dekat dari urat leher kita Qs 50:16.

}§øŠs9 ¾ÏmÎ=÷WÏJx. Öäï†x« ( uqèdur ßìŠÏJ¡¡9$# 玍ÅÁt7ø9$# ÇÊÊÈ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan (Bentuk Dzat) Dia. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat Qs 42:11.

Dan tidak ada sesuatupun yang semisal dengan (dimensi Dzat) Dia Qs 112:4.

Jika ada orang yang meyakini bahwa ada sesuatu yang memiliki titik sama, serupa atau semisal dengan bentuk dan dimensi Dzat Alloh atau meyakini bahwa di luar Alloh ada tuhan lagi, maka ia telah mempersekutukan Alloh dalam hal Dzatiyah-Nya atau yang disebut dengan Musyrik fii Dzat Alloh.

2. Tauhid fii Sifat Alloh (Meng-Esa-kan Alloh dalam hal Sifat-Sifat-Nya).

Yaitu meyakini dan menerima bahwa hanya Alloh saja-lah satu-satunya Dzat yang memiliki Sifat Wajib 20 dengan seluruh kesempurnaan-Nya.

Sifat 20 bagi Alloh yang wajib diyakini oleh setiap muslim:

1. Wujud, Artinya Ada, dimana keberadaan Dzat Alloh tidak ada awal penciptaan-Nya dan tidak pernah ada -Nya.

2. Qidam, Artinya Dzat Alloh Maha Terdahulu, dimana terdahulunya keberadaan Dzat Alloh tidak ada awalnya dan tidak ada pencipta pertama kalinya.

3. Baqo, Artinya Dzat Alloh Maha Kekal, dimana kekal-Nya Dzat Alloh tidak ada awal penciptaannya dan tidak akan pernah ada akhirnya.

4. Mukholafatu Lil Hawadits, Artinya Dzat Alloh Maha Berbeda dengan sesatu yang baru, tidak ada sesuatupun yang memiliki titik sama, semisal, serupa atau setara  dengan keberadaan bentuk dan dimensi Dzat Alloh.

5. Qiyamuhu Binafsih, Artinya Dzat Alloh Maha Berdiri sendiri, keberadaan Dzat Alloh tidak memerlukan pihak lain.

6. Wahdaniyat, Artinya Dzat Alloh Maha Esa (Satu / Tunggal), Dzat Alloh itu hanya ada satu; tidak dua, tidak tiga, tidak empat dan seterusnya.

7. Qudrot, Artinya Dzat Alloh Maha Berkuasa, yakni; berkuasa untuk mengadakan dan mentiadakan segala sesuatu dan berkuasa penuh untuk memimpin dan memerintah seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi ini.

8. Irodah, Artinya Dzat Alloh Maha Berkehendak, yakni Alloh SWT memiliki keinginan, tujuan, cita-cita atau memiliki program.

9. Ilmu, Artinya Dzat alloh Maha Mengetahui, Alloh SWT mengetahui segala sesuatu, baik yang nyata maupun yang ghaib karena Dia pencipta dan pengendalinya.

10. Hayat, Artinya Dzat Alloh Maha Hidup, hidupnya Dzat Alloh tidak ada awalnya dan tidak pernah ada ada akhirnya karena hidupnya Dzat Alloh bukan dengan alat pernafasan dan oksigen tapi dengan sifat Hayat-Nya Dia.

11. Sama, Artinya Dzat Alloh Maha Mendengar, dimana mendengarnya Dzat Alloh bukan dengan telinga, tapi dengan sifat Sama’-Nya Dia sehingga segala sesuatu baik yang nampak maupun yang ghaib, baik yang jauh maupun yang dekat pasti keberadaannya senantiasa didengarkan oleh Alloh SWT karena Dia pencipta dan pengendalinya.

12. Bashor, Artinya Artinya Dzat Alloh Maha Melihat, dimana melihatnya Dzat Alloh bukan dengan indra mata, tapi dengan sifat Bashor’-Nya Dia sehingga segala sesuatu baik yang nampak maupun yang ghaib, baik yang jauh maupun yang dekat pasti keberadaannya selalu diperhatikan dan dilihatnya oleh Alloh SWT tanpa terkecuali karena Dia adalah pencipta dan pengendalinya.

13. Kalam, Artinya terbukti keberadaan Dzat Alloh Bisa Berbicara, dimana berbicaranya Dzat Alloh bukan dengan mulut atau bahasa isyarat tapi dengan sifat Kalam-Nya Dia.

14. Qodiron, Artinya Terbukti Dzat Alloh Berkuasa Penuh baik di langit maupun di planet bumi ini.

15. Muridan, Artinya Terbukti Dzat Alloh Memiliki kehendak; keinginan, tujuan, cita-cita dan memiliki program.

16. Aliman, Artinya  Terbukti Dat Alloh Maha Mengetahui segala sesuatu.

17. Hayan, Artinya Terbukti Dzat Alloh Maha Hidup.

18. Sami’an, Artinya Terbukti Dzat Alloh Maha Mendengar.

19. Bashiron, Artinya Terbukti Dzat Alloh Maha Melihat.

20. Mutakalliman, Artinya Terbukti Dzat Alloh Bisa Berbicara.

Sifat-Sifat Mustahil Bagi Alloh:

1.  ‘Adam, Artinya mustahil jika Dzat Alloh itu tidak ada.

2.  Huduts, Artinya mustahil jika keberadaan Dzat Alloh itu baru (Ada awal penciptaanya).

3.  Fana, Artinya mustahil jika Dzat Alloh rusak atau binasa (Ada Awal penciptaanya dan akan ada akhirnya).

4.  Mumatsalatul Lil Hawadisi, Artinya mustahil  jikakeberadaan Dzat ada titik sama dengan sesuatu yang baru (hasil ciptaan-Nya).

5.  Qiyamuhu Bi Ghairihi, Artinya mustahil jika keberadaan Dzat Alloh memerlukan bantuan pihak lain.

6.  Ta’addud, Artinya mustahil jika keberadaan Dzat Alloh berbilang-bilang (Lebih dari satu).

7.  Ajzun, Artinya mustahil jika Dzat Alloh lemah.

8.  Karahah, Artinya Mustahil jika Dzat Alloh terpaksa, tidak punya keinginan.

9.  Jahlun, Artinya Mustahil jika Dzat Alloh bodoh.

10. Mautun, Artinya mustahil jika Dzat Alloh mati.

11. Summun, Artinya mustahil jika Dzat Alloh tuli.

12. ‘Umyun, Artinya mustahil jika Dzat Alloh buta.

13. Bukmun, Artinya mustahil jika Dzat Alloh bisu.

14. Ajizan, Artinya mustahil jika Dzat Alloh terbukti lemah.

15. Karihan, Artinya mustahil jika Dzat Alloh terbukti bisa dipaksa (terpaksa).

16. Jahilan, Artinya mustahil jika Dzat Alloh terbukti bodoh.

17. Mayyitan, Artinya mustahil jika Dzat Alloh terbukti bisa mati.

18. Asoma, Artinya mustahil jika keberadaan Dzat Alloh terbukti  tuli.

19. ‘Ama, Artinya mustahil jika Dzat Alloh terbukti buta.

20. Abkama, Artinya mustahil jika Dzat Alloh terbukti bisu (tidak bisa berbicara).

Ciri-ciri orang yang bertauhid fii Sifat Alloh (meng-Esa-kan Alloh dalam hal Sifat-Nya) ialah ia meyakini, mengakui dan menerima bahwa     :

(a)   Tidak ada sesuatupun yang memiliki titik sama dengan Sifat-Sifat Kesempurnaan yang dimiliki oleh Dzat Alloh.

(b)   Tidak ada sesuatupun yang sebanding, setara, serupa atau semisal dengan Sifat-Sifat yang dimiliki oleh Dzat Alloh.

4 }§øŠs9 ¾ÏmÎ=÷WÏJx. Öäï†x« ( uqèdur ßìŠÏJ¡¡9$# 玍ÅÁt7ø9$# ÇÊÊÈ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan (Sifat) Dia. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat Qs 42:11.

öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7‰ymr& ÇÍÈ

Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan (Sifat) Dia Qs 112:4.

Orang yang meyakini bahwa selain Alloh (di luar Alloh) ada sesuatu yang memiliki titik sama dengan keberadaan Sifat-Sifat yang dimiliki oleh Dzat Alloh atau orang yang meyakini bahwa selain Alloh (di luar Alloh) ada sesuatu yang sebanding, setara, serupa atau semisal dengan keberadaan Sifat-Sifat yang dimiliki oleh Dzat Alloh, maka itulah orang yang dalam keadaan men-dua-kan Alloh dalam hal Sifat-Sifat-Nya (musyrik terhadap Sifat Alloh).

Sedangkan orang yang tidak meyakini atau menolak terhadap keberadaan Sifat-Sifat yang dimiliki oleh Dzat Alloh dengan seluruh kesempurnaan-Nya, maka itulah orang yang dalam keadaan kafir terhadap Sifat-Sifat-Nya.

3. Tauhid fii Asma’ Alloh (Meng-Esa-kan Alloh dalam hal Nama-Nama-Nya).

Yaitu meyakini dan menerima bahwa hanya Alloh saja-lah satu-satunya Dzat yang memiliki Asamaul Husna dengan seluruh kesempurnaan-Nya.

Lafadz Alloh adalah merupakan nama Tuhan Sang Pencipta, Pemilik, Penggenggam, Pemelihara, Pengurus, Pengatur, Pengendali dan Penguasa Alam semesta; langit dan bumi beserta seluruh isinya. Tidak ada Tuhan kecuali Alloh, diluar Alloh namanya bukan Tuhan tapi makhluk hasil ciptaan Tuhan. Dan seluruh Kitab Suci yang telah diwahyukan kepada Para Rosul-Nya, menerangkan bahwa nama Tuhan itu ialah Alloh Qs 13:16.

Alloh ialah satu-satunya Raja (Pimpinan / Penguasa) yang hak dicintai, dipuja, diagungkan, ditaati dan yang hak dijadikan tempat pengabdian oleh setiap makhluk yang ada di langit dan di bumi ini. Adapun untuk nama-nama lain dari Dzat Alloh yang ada dalam Asma’ul Husna merupakan kata berita yang menerangkan tentang keberadaan Sifat Kesempurnaan Yang Melekat pada Dzat Alloh.

Nama-Nama Alloh Yang wajib diyakini oleh setiap muslim, ada 99, yakni;

  1. Alloh.

Lafadz Alloh adalah merupakan nama Tuhan Sang Pencipta, Pemilik, Penggenggam, Pemelihara, Pengurus, Pengatur, Pengendali dan Penguasa Alam semesta; langit dan bumi beserta seluruh isinya. Tidak ada Tuhan kecuali Alloh, di luar Alloh namanya bukan Tuhan, tapi makhluk hasil ciptaan Tuhan.

Dan seluruh Kitab Suci yang telah diwahyukan kepada Para Rosul-Nya, menerangkan bahwa nama Tuhan itu ialah Alloh Qs 13:16. Alloh ialah satu-satunya Raja yang hak diabdi, dipuja, diagungkan, disanjung, dijadikan kekasih dan yang hak dijadikan idola oleh setiap makhluk yang ada di langit dan di bumi ini.

Adapun untuk nama-nama lain dari Alloh yang ada dalam Asma’ul Husna, maka menunjukkan pula keberadaan sifat yang melekat pada Dzat Alloh dan merupakan kata berita yang menerangkan tentang keberadaan Sifat-Sifat Alloh.

  1. ALLOH.
  2. Ar-Rohman (Maha Pengasih) Qs 2:163 / 13:30 / 20:5,109 / 50:33 / 78:38 .
  3. Ar-Rohim (Maha Penyayang) Qs 1:3 / 4:64 / 27:30 / 34:2.
  4. Al-Malik (Maha Merajai) Qs 3:26 / 59:23.
  5. Al-Quddus (Maha Berih dari Noda dan Cacat) Qs 59:23 / 62:1.
  6. As-Salam (Maha Penyelamat) Qs 59:23.
  7. Al-Mu’min (Maha Pemelihara Keamanan) Qs 59:23.
  8. Al-Muhaimin (Maha Penjaga) Qs 5:48 / 59:23.
  9. Al-Aziz (Maha Perkasa) Qs 3:4 / 11:66 / 27:9 / 38:66 / 54:42 / 59:23.
  10. Al-Jabbar (Maha Agung) Qs 59:23 .
  11. Al-Mutakabbir (Maha Megah / Maha Angkuh) Qs 59:23.
  12. Al-Kholiq (Maha Pencipta) Qs 6:102 / 15:28 / 40:62.
  13. Al-Bari (Maha Pembuat) Qs 2:54 / 59:23.
  14. Al-Mushowwir (Maha Pembentuk) Qs 3:6 / 40:64 / 59:24
  15. Al-Ghoffar (Maha Pengampun) Qs 38:66 / 39:5 / 71:10.
  16. Al-Qohhar (Maha Pemaksa) Qs 13:16 / 38:65 / 39:4.
  17. Al-Wahhab (Maha Pemberi) Qs 3:8 / 38:9.
  18. Al-Rozzak (Maha Pemberi Rizki) Qs 51:58.
  19. Al-Fattah (Maha Membukakan) Qs 34:26.
  20. Al-‘Alim (Maha Mengetahui) Qs 2:181,247 / 3:35 / 6:13.
  21. Al-Qobidl (Maha Menggenggam dan Menahan) Qs 2:245.
  22. Al-Basit (Maha Meluaskan / Melepaskan) Qs 17:30.
  23. Al-Khofid (Maha Menjatuhkan / Merendahkan) Qs 56:23.
  24. Ar-Rofi (Maha Mengangkat) Qs 2:253 / 3:55 / 58:11.
  25. Al-Mu’iz (Maha Memberi Kemuliaan) Qs 3:26.
  26. Al-Mudzil (Maha Memberi Kehinaan) Qs 3:26.
  27. As-Sami’ (Maha Mendengar) Qs 2:181 / 6:13 / 17:1 / 40:20,56.
  28. Al-Bashir (Maha Melihat) Qs 4:58 / 17:71 / 40:20,56 / 67:59.
  29. Al-Hakam (Maha Penetap Hukum) Qs 5:58 / 6:114 / 10:109 / 12:40 / 13:41.
  30. Al-‘Adlu (Maha Adil).
  31. Al-Latif (Maha Halus / Lembut) Qs 6:103 / 12:100 / 67:14.
  32. Al-Khobir (Maha Waspada) Qs 6:18,103 / 34:1 / 59:18 / 100:1.
  33. Al-Halim (Maha Penghiba / Penyantun) Qs 9:114 / 17:44 / 64:17.
  34. Al-‘Azhim (Maha Agung) Qs 3:74 / 56:96 / 69:52.
  35. Al-Ghofur (Maha Kaya) Qs 2:235 / 34:2 / 48:14 / 64:14.
  36. Asy-Syakur (Maha Pembalas) Qs 35:30 / 64:17.
  37. Al-‘Aliy (Maha Tinggi) Qs 2:255 / 4:34 / 22:62 / 40:12.
  38. Al-Kabir (Maha Besar) Qs 13:9 / 22:62 / 40:12.
  39. Al-Hafizh (Maha Pemelihara) Qs 11:57 / 12:64 / 42:6 / 50:52.
  40. Al-Mukit (Maha Memberi Kecukupan).
  41. Al-Hasib (Maha Penghitung) Qs 4:6 / 6:62.
  42. Al-Jalil (Maha Luhur) Qs 55:27.
  43. Al-Karim (Maha Pemurah) Qs 27:40.
  44. Ar-Roqib (Maha Peneliti / Mengawasi) Qs 4:1 / 33:52.
  45. Al-Mujid (Maha Mengabulkan) Qs 2:186 / 11:61 / 37:35.
  46. Al-Wasi (Maha Luas) Qs 2:247 / 3:73 / 24:32.
  47. Al-Hakim (Maha Bijaksana) Qs 6:83 / 11:1 / 95:8 / 27:9 / 34:1 / 39:1.
  48. Al-Wadud (Maha Mengasihi) Qs 11:90 / 85:14.
  49. Al-Majid (Maha Mulia) Qs 11:73 / 85:15.
  50. Al-Ba’its (Maha Membangkitkan) Qs 2:56 / 16:84 / 16:89.
  51. Asy-Syahid (Maha Menyaksikan) Qs 33:55 / 34:47.
  52. Al-Haq (Maha Benar) Qs 22:62 / 31:30.
  53. Al-Wakil (Maha Memelihara Penyerahan) Qs 4:81 / 17:65.
  54. Al-Qowiy (Maha Kuat) Qs 8:52 / 11:66 / 57:25.
  55. Al-Mathin (Maha Kokoh) Qs 7:183 / 51:58 / 68:45.
  56. Al-Waliy (Maha Melindungi) Qs 4:45 / 42:28 / 33:17.
  57. Al-Hamid (Maha Terpuji) Qs 11:73 / 14:1 / 42:28.
  58. Al-Muhshi (Maha Menghitung / Menghisab) Qs 19:94 / 72:28.
  59. Al-Mubdi (Maha Memulai) Qs 33:37 / 85:13.
  60. Al-Mu’id (Maha Mengulangi) Qs 85:13.
  61. Al-Muhyi (Maha Menghidupkan) Qs 30:50 / 44:8.
  62. Al-Mumit (Maha Mematikan) Qs 44:8.
  63. Al-Hayyu (Maha Hidup) Qs 2:255 / 3:2 / 40:65.
  64. Al-Qoyyum (Maha Berdiri Sendiri) Qs 2:255 / 3:2 / 20:111.
  65. Al-Wajid (Maha Kaya) Qs 93:6-8.
  66. Al-Majid (Maha Mulia) Qs 85:15.
  67. Al-Wahid (Maha Esa) Qs 13:16 / 21:108 / 38:65.
  68. Ash-Shomad (Maha Dibutuhkan) Qs 112:2.
  69. Al-Qodir (Maha Kuasa / Maha Berdaulat) Qs 30:50,54 / 6:65 / 10:65.
  70. Al-Muqtadir (Maha Menentukan) Qs 18:45.
  71. Al-Muqoddim (Maha Mendahulukan) 15:24.
  72. Al-Mu’akhir (Maha Mengakhirkan) Qs 15:24 / 11:104.
  73. Al-Awwal (Maha Pertama) Qs 57:3.
  74. Al-Akhir (Maha Akhir) Qs 57:3.
  75. Adz-Dzohir (Maha Nyata) Qs 57:3.
  76. Al-Bathin (Maha Tersembunyi) Qs 57:3.
  77. Al-Wali (Maha Menguasai / Memimpin) Qs 13:11 / 12:101.
  78. Al-Muta’ali (Maha Suci) 13:9.
  79. Al-Barri (Maha Dermawan) Qs 52:28.
  80. At-Tawwab (Maha Penerima Taubat) Qs 2:54 9:104 / 110:16.
  81. Al-Muntaqim (Maha Menyengsarakan) 39:37 / 43:41 / 44:16.
  82. Al-‘Afuw (Maha Pemaaf) Qs 4:43,99 / 22:60.
  83. Ar-Rouf (Maha Mensejahterakan) Qs 2:207 / 9:117 / 59:10.
  84. Al-Malikul Mulk (Maha Menguasai Kerajaan / Pemerintahan) Qs 3:26.
  85. Dzul Zalali Wal Ikrom (Maha Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan) Qs 55:27.
  86. Al-Muqsith (Maha Mengadili) Qs 3:18.
  87. Al-Jami’ (Maha Mengumpulkan) Qs 3:9 / 4:172 / 42:29.
  88. Al-Ghoniy (Maha Kaya) Qs 4:131 / 6:133 / 22:64.
  89. Al-Mughni (Maha Memberi Kekayaan).
  90. Al-Mani’ (Maha Pembela).
  91. Ad-Adoru (Maha Mencelakakan) Qs 48:11.
  92. An-Nafi’ (Maha Memberi Kesenangan) Qs 48:11.
  93. An-Nur (Maha Bercahaya) Qs 39:22.
  94. Al-Hadi (Maha Pembimbing) Qs 39:23.
  95. Al-Badi (Maha Pembaharu) Qs 2:117.
  96. Al-Baqi (Maha Kekal) Qs 55:27.
  97. Al-Warits (Maha Pewaris) Qs 15:23 / 21:89.
  98. Ar-Rosyid (Maha Cerdik / Maha Pandai) Qs 18:10 / 18:17.
  99. As-Shobur (Maha Penyabar) Qs 7:153.

Ciri-ciri orang yang bertauhid fii Asma Alloh (Meng-Esa-kan dalam hal Asma’-Nya) ialah ia meyakini, mengakui dan menerima bahwa    :

(a)   Tidak ada yang memiliki Asma’ul Husna dengan seluruh kesempurnaan-Nya kecuali hanya Alloh. Dan di luar Alloh tidak ada sesuatupun yang memiliki Asma’ul Husna dengan seluruh kesempurnaan-Nya Qs 7:180 / 17:110 / 20:8 / 59:22-24.

(b)   Tidak ada sesuatupun yang memiliki titik sama dengan keberadaan Asma’ Alloh dengan seluruh kesempurnaan-Nya.

(c)    Tidak ada sesuatupun yang sebanding, setara, serupa atau semisal dengan keberadaan Asma’ Alloh dengan seluruh kesempurnaan-Nya Qs 42:11 / 112:4. Seperti;

-    Tidak ada Yang Maha Rahman kecuali Alloh.

-    Tidak ada Yang Maha Rahim kecuali Alloh.

-    Tidak ada Yang Maha Malik kecuali Alloh.

-    Tidak ada Yang Maha Suci kecuali Alloh.

-    Tidak ada Yang Maha Menyelamatkan kecuali Alloh,

-    Dan seterusnya.

}§øŠs9 ¾ÏmÎ=÷WÏJx. Öäï†x« ( uqèdur ßìŠÏJ¡¡9$# 玍ÅÁt7ø9$# ÇÊÊÈ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan (Asma’) Dia. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat Qs 42:11.

Ns9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7‰ymr& ÇÍÈ

Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan (Asma’) Dia Qs 112:4.

Jika ada orang yang meyakini bahwa di luar Alloh atau selain Alloh ada sesuatu yang memiliki titik sama; sebanding, setara, semisal atau serupa dengan keberadaan Asma’ Alloh dengan seluruh kesempurnaan-Nya, maka itulah orang yang men-dua-kan Alloh dalam hal Asma’-Nya (musyrik terhadap Asma’ Alloh).

Sedangkan orang yang tidak menyakini atau menolak terhadap keberadaan Asma’ Alloh dengan seluruh kesempurnaan-Nya, maka itulah orang yang dalam keadaan kafir terhadap Asma’ Alloh.

4.  Tauhid fiil Af’al Alloh (Meng-Esa-kan Alloh dalam hal Pekerjaan-Nya).

Yaitu meyakini dan menerima bahwa segala sesuatu yang ada dan terjadi baik di langit maupun di bumi ini adalah seluruhnya merupakan hasil pekerjaan Alloh dan sepenuhnya dikendalikan oleh-Nya tanpa terkecuali.

Wujud Af’al Alloh ada 2, yaitu;

(1)   Af’al Alloh Taqwin / Af’al Alloh Mudthor.

Yaitu pekerjaan Alloh yang tidak melibatkan upaya makhluk, seperti Alloh menciptakan dan mengendalikan Jagat Raya; langit, bintang, matahari, bulan dan bumi. Atau Alloh menciptakan dan mengendalikan ruh, jantung, darah, pernafasan dan alat pencernaan yang ada pada diri kita.

(2)   Af’al Alloh Tasyri / Af’al Alloh Mukhtar.

Yaitu pekerjaan Alloh yang secara kasad mata kita ada ikut serta dan upaya makhluk, seperti Alloh menciptakan bangunan, rumah, kendaraan, jalan, pakaian, alat tulis dan lain-lain.

Perkara yang mendukung terwujudnya Af’al Alloh Tasyri atau Af’al Alloh Yang Mukhtar:

(a) Adanya Dzat Alloh Yang Berkuasa untuk menciptakan, menggenggam, memelihara dan mengendalikan alam semesta beserta seluruh isinya.

(b) Adanya sumber daya manusia yang telah diciptakan, dipelihara dan dikendalikan tiap organ tubuhnya supaya berfungsi sesuai dengan kehendak dan tujuan Alloh.

(c) Adanya sumber bahan (sumber daya alam) yang telah disediakan oleh Alloh.

(d) Adanya ide dan ilmu pengetahuan hasil ciptaan Alloh yang kemudian disimpan pada memory akal manusia yang selanjutnya dipelihara dan difungsikan sesuai dengan kehendak Alloh SWT.

(e) Adanya unsur-unsur lain yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia seperti; oksigen, air, makanan, cahaya, gaya grafitasi, suhu, matahari, tumbuhan, daging hewan, ikan (flora dan fauna), dan lain sebagainya yang keseluruhannya itu disediakan dan dikendalikan penuh oleh Alloh SWT.

Fungsi dan kedudukan Alloh ialah sebagai fa’il (subjek), yakni; yang mengadakan, yang mengerjakan, yang mengendalikan dan yang akan mentiadakan seluruh makhluk, itulah wujud af’al Alloh.

Sedangkan fungsi dan kedudukan makhluk hanyalah sebagai maf’ul (objek), yakni yang diadakan, yang dihidupkan, yang dimampukan, yang dikuasakan, yang dipelihara, yang digerakkan dan yang dikendalikan sepenuhnya oleh Alloh Sang Pemilik dan Penguasa Jagat raya ini Qs 10:3,55 / 19:65 / 20:6.

Tidak ada sesuatupun yang mampu untuk menghasilkan atsar kerja atau hasil kerja (af’al) kecuali hanya Alloh saja. Dan tidak ada sesuatupun yang setara, sebanding, serupa atau semisal dengan hasil pekerjaan Alloh (af’al Alloh).

}§øŠs9 ¾ÏmÎ=÷WÏJx. Öäï†x« ( uqèdur ßìŠÏJ¡¡9$# 玍ÅÁt7ø9$# ÇÊÊÈ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan (Af’al) Dia. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat Qs 42:11.

Ns9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7‰ymr& ÇÍÈ

Dan tidak ada sesuatupun yang setara dengan (Af’al) Dia Qs 112:4.

Ciri-ciri orang yang bertauhid fil Af’al Alloh (mengesakan Alloh dalam hal Af’al-Nya) adalah ia meyakini, mengakui dan menerima bahwa   :

(a)  Tidak ada Dzat yang memiliki af’al (atsar kerja / hasil kerja) kecuali hanya Alloh saja

(b)  Tidak ada sesuatupun yang mampu untuk menghasilkan af’al (atsar kerja / hasil kerja) kecuali hanya Alloh saja.

(c)  Tida ada sesuatupun yang memiliki titik sama dengan pekerjaan Alloh.

(d)  Tidak ada sesuatupun yang sebanding, setara, serupa atau semisal dengan pekerjaan (af’al) Alloh.

Orang yang meyakini hwa selain Alloh (di luar Alloh) ada sesuatu yang memiliki titik sama dengan pekerjaan Alloh atau orang yang meyakini bahwa selain Alloh (di luar Alloh) ada sesuatu yang sebanding, setara, serupa atau semisal dengan pekerjaan-Nya, maka itulah orang yang dalam keadaan men-dua-kan Alloh dalam hal Af’al-Nya (musyrik terhadap Af’al-Nya).

Sedangkan orang yang berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang ada dan terjadi di langit dan di bumi ini adalah bukan merupakan hasil pekerjaan Alloh (bukan af’al Alloh), atau menolak untuk menerima keberadaan Af’al Alloh, maka ia telah kafir terhadap Af’al-Nya Alloh.

2. Tauhid Syar’iyah atau Tauhid Praktis (Tauhid dalam tataran akal, hati, lisan dan perbuatan).

Yaitu ajaran tentang meng-Esa-kan Alloh yang bersifat konkrit dalam bentuk syari’at atau aturan nyata yang diterapkan dalam seluruh aspek tatanan kehidupan bermasyarakat, dimana ruang lingkup tauhid ini tidak hanya sebatas tataran akal, keyakinan dan lisan saja, akan tetapi mencakup aktualisasi dalam bentuk sikap dan perbuatan nyata yang diterapkan dalam seluruh aspek tatanan kehidupan berkeluarga, bermasyarakat dan bernegara dengan menjadikan Alloh SWT sebagai satu-satunya sumber Rububiyah (aturan atau legalitas), sumber Mulkiyah (kewenangan atau otoritas) dan sumbur Uluhiyah (keta’atan atau loyalitas).

Yang termasuk ke dalam kelompok ajaran tauhid syar’iyah atau tauhid parktis adalah:

1.  Tauhid Rububiyah.

Yaitu meng-Esa-kan Alloh dalam hal aturan dan dalam hal ketentuan hukum-hukum-Nya Qs 114:1.

Pengertian Rububiyah;

Kata Rububiyah berasal dari kata; Robb yang secara bahasa merupakan kata kerja dari; Robb-Yarobbu-Robban, yang berarti; Pencipta, Pengatur, Pemelihara dan Pemilik segala sesuatu.

(a)   Pencipta segala sesuatu;

  • Pencipta risalah (ajaran, tuntunan, pedoman dan konsep hidup).
  • Pencipta syari’at; aturan / undang-undang dan Pencipta hukum
  • Pencipta alam semesta beserta seluruh isinya.

(b)    Pengatur segala sesuatu.

(c)    Pemelihara segala sesuatu

(d)    Pemilik segala sesuatu.

Sedangkan kata bendanya adalah Robbun dengan bentuk jamaknya Arbaabun yang berarti; Pemilik, Majikan, Tuan atau Tuhan.

Jadi yang dimaksud dengan Tauhid Rububiyah adalah meyakini, mengakui dan menetapkan dalam hati bahwa langit dan bumi beserta seluruh isinya adalah merupakan hasil ciptaan dan milik Alloh SWT Qs 10:3,55 / 20:6, maka yang berhak untuk menciptakan ajaran; syari’at, aturan, undang-undang dan hukum untuk dijadikan pedoman dalam manata dan mengatur seluruh aspek kehidupan makhluk yang ada di langit dan di bumi ini hanya-lah hak Alloh saja Qs 7:54 / 22:67 / 42:13 / 45:18 / 13:37,41 / 10:37 / 6:57 / 33:36. Jika ada manusia yang menciptakan ajaran; syari’at, aturan, undang-undang dan hukum, tanpa ada legalitas (izin resmi) dari Alloh SWT, maka itulah orang yang divonis oleh Alloh SWT sebagai Thogut (pemberontak / perebut hak Alloh). Qs 4:60,76 / 6:112,123.

Ÿwr& ã&s! ß,ù=sƒø:$# âöDF{$#ur 3 ÇÎÍÈ

Ingatlah…!!!   Menciptakan (segala sesuatu) dan memerintah hanyalah hak Alloh Qs 7:54.

Ingat….!!! Langit dan bumi beserta seluruh isinya adalah merupakan hasil ciptaan dan milik Alloh SWT Qs 10:3,55 / 20:6, maka yang berhak untuk menciptakan ajaran; syari’at, aturan / undang-undang dan hukum untuk manata dan mengatur seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi ini hanya-lah hak Alloh saja Qs 7:54 / 22:67 / 42:13 / 45:18 / 13:37,41 / 10:37 / 6:57 / 33:36. Jika ada manusia yang menciptakan ajaran; aturan dan hukum, tanpa ada legalitas (izin resmi) dari Alloh SWT, maka itulah orang yang divonis oleh Alloh SWT sebagai Thogut (Pemberontak; Perebut hak Alloh) Qs 4:60,76 / 6:112,123.

Wujud Rububiyah (Pengaturan) Alloh:

(a)   Sunatulloh (Ayat Alloh yang Tersirat atau Kauniyah).

Yaitu pengaturan Alloh SWT secara langsung terhadap alam semesta ini, dimana dalam proses pelaksanaan pengaturannya sama sekali tidak ada campur tangan upaya dan usaha makhluk, seperti Alloh SWT mengatur eksistensi Jagat raya; planet, matahari, bulan, bintang, bumi atau Alloh mengatur proses pencernaan, pernafasan, kinerja jantung, pendengaran dan penglihatan pada manusia dan hewan.

(b)   Kitabulloh (Ayat Alloh yang Tersurat / Kauliyah).

Yaitu pengaturan Alloh SWT terhadap tatanan sosial hidup masyarakat atau sistem hidup manusia, dimana proses pelaksanaan pengaturannya sangat diperlukan campur tangan dan usaha maksimal manusia beriman yang duduk dalam Struktur Lembaga Mulkiyah Islam (Kerajaan atau Pemerintahan Islam), seperti Rosululloh SAW mendirikan dan membangun Struktur Lembaga Mulkiyah Islam di Madinah dengan menjadikan Wahyu Alloh (Al-Qur’an) sebagai pedoman tertinggi dalam menata dan mengatur sistem kehidupan masyarakat di wilayah tersebut.

Ciri-ciri keyakinan orang yang bertauhid Rububiyah (meng-esa-kan Alloh dalam hal Rububiyah-Nya) adalah ia meyakini, mengakui dan menerima  bahwa   :

(a)    Tidak ada Pencipta segala sesuatu kecuali Alloh Qs 19:65 / 7:54 / 10:3 / 27:60,61 / 28:68 / 6:102 / 32:4 / 35:1-4 / 39:62 / 40:62-68 / 14:32.

Artinya meyakini, mengakui dan menerima bahwa hanya Alloh sajalah satu-satunya Dzat yang berhak menduduki jabatan sebagai Pencipta segala sesuatu, di luar Alloh SWT status kedudukan atau jabatannya bukan sebagai Pencipta tapi merupakan hasil ciptaan Sang Pencipta.

  • Tidak ada yang berhak menciptakan ajaran, syari’at, dan undang-undang kecuali Alloh Qs 7:54 / 22:67 / 42:13 / 45:18.
  • Tidak ada yang berhak menciptakan dan menetapkan hukum kecuali Alloh SWT  Qs 7:54 / 4:14 / 6:57,114 / 10:37 / 13:41 / 33:36.

Kita sebagai muslim wajib meyakini, mengakui dan menerima bahwa hanya Alloh sajalah satu-satunya Dzat yang berhak menduduki jabatan sebagai Pencipta; ajaran; Pencipta syari’at, Pencipta aturan, Pencipta undang-undang dan Pencipta hukum bagi seluruh makhluk-Nya yang ada di langit dan di bumi ini, di luar Alloh SWT jabatannya bukan sebagai pencipta; ajaran; syari’at, aturan, undang-undang dan hukum, tapi hanya sebagai penganut dan pengguna ajaran; syari’at, aturan, undang-undang dan hukum yang telah diciptakan oleh Alloh SWT.

Jika ada manusia yang menduduki jabatan sebagai Pencipta; ajaran; Pencipta syari’at, Pencipta aturan, Pencipta undang-undang dan Pencipta hukum untuk menata dan mengatur manusia yang lainnya, maka itulah yang divonis oleh Alloh SWT sebagai Thogut (Pemebrontak atau perebut hak Alloh) seperti  halnya Fir’aun di zaman Nabi Musa, Raja Namruz di zaman Nabi Ibrohim dan Abu Jahal di zaman Nabi Muhammad SAW.

(b)    Tidak ada Pengatur segala sesuatu kecuali Alloh Qs 10:3,35 / 13:2 / 32:5.

(c)    Tidak ada Pemelihara (Pengurus) segala sesuatu kecuali Alloh Qs 44:7 / 2:255 / 3:3 / 4:132 / 6:102 / 20:111 / 33:3 / 39:62.

(d)    Tidak ada Pemilik segala sesuatu kecuali Alloh Qs 20:6 / 2:284 / 4:131-132 / 5:120 / 6:12-13 / 10:55 / 11:123 / 16:52 / 22:64 / 23:84-89 / 24:42 / 34:1.

(e)    Tidak ada Majikan / Tuan / Tuhan segala sesuatu kecuali Alloh.

Jika ada orang yang meyakini bahwa di luar Alloh ada sesuatu yang memiliki kedudukan atau jabatan sebagai Robb (Pencipta, Pengatur, Pemelihara, Pengurus Pemilik, Majikan, Tuan, Tuhan) atau meyakini bahwa di luar Alloh ada sesuatu yang berhak untuk menciptakan ajaran; syari’at, aturan, undang-undang dan hukum, maka berarti ia sedang dalam keadaan men-dua-kan Alloh dalam hal Rububiyah-Nya atau yang dikenal dengan Musyrik Rububiyah.

Ciri khas sikap orang yang beriman terhadap keberadaan Rububiyah Alloh (beraqidah Rububiyah atau bertauhid Rububiyah) adalah ia akan menolak secara totalitas terhadap segala bentuk rububiyah thogut (ajaran; syari’at, aturan, undang-undang dan ketentuan hukum yang bersumber dari produk manusia) dan ia hanya menerima Rububiyah Alloh (ajaran; syari’at, aturan, undang-undang dan hukum yang bersumber dari Wahyu Alloh) saja yang diselenggarakan di bawah naungan Lembaga Mulkiyah Islam (Kerajaan atau Pemerintahan Islam).

2.  Tauhid Mulkiyah.

Yaitu meng-Esa-kan Alloh dalam hal institusi kelembagaan-Nya; dalam hal kedaulatan-Nya, dalam hal kerajaan-Nya, dalam hal pemerintahan-Nya dan dalam hal kepemimpinan-Nya Qs 114:2.

Pengertian Mulkiyah.

Kata Mulkiyah berasal dari kata Al-Malik, yang berarti;

(a)   Raja Qs 1:4 / 20:114 / 23:116 / 114:2.

Nama lain dari Raja adalah;

  • Penguasa (Pemilik dan Pengendali Kekuasaan).
  • Pemimpin (Pucuk Pimpinan / Pimpinan Tertinggi).
  • Pemerintah (Tukang Nitah / Tukang Nyuruh; Kepala Pemerintahan).

(b)   Lembaga Kerajaan Qs 2:251 / 5:120 / 6:73 / 22:56 / 25:2 / 57:5 / 67:1.

Nama lain dari Lembaga Kerajaan (Mulkiyah) adalah;

  • Lembaga Daulah (Lembaga Kekuasaan / Lembaga Negara) Qs 6:73 / 22:56 / 23:88 / 25:2-3.
  • Lembaga Kepemimpinan (Lembaga Khilafah) Qs 38:26.
  • Lembaga Pemerintahan (Lembaga Daulah atau Negara) Qs 2:247,251,258.

Ÿwr& ã&s! ß,ù=sƒø:$# âöDF{$#ur 3 ÇÎÍÈ

Ingatlah…!!!   Menciptakan (segala sesuatu) dan memerintah hanyalah hak Alloh Qs 7:54.

Jadi yang dimaksud dengan Tauhid Mulkiyah adalah meyakini, mengakui dan menetapkan dalam hati bahwa langit dan bumi beserta seluruh isinya adalah merupakan hasil ciptaan dan milik Alloh SWT Qs 10:3,55 / 20:6, maka yang berhak untuk mendirikan Lembaga Mulkiyah (Lembaga Kerajaan atau Lembaga Pemerintahan) di Jagat Raya ini dan yang berhak untuk memimpin dan memerintah seluruh makhluk yang ada di dalamnya ialah hanya-lah hak Alloh saja Qs 7:54 / 67:1 / 25:2 / 5:120 / 20:114 / 23:116 / 6:18,61,73 / 10:65.

Langit dan bumi beserta seluruh isinya adalah merupakan hasil ciptaan dan milik Alloh SWT Qs 10:3,55 / 20:6, maka yang berhak untuk mendirikan Lembaga Mulkiyah (Lembaga Kerajaan / Lembaga Pemerintahan) dan yang berhak untuk memimpin dan memerintah (menyuruh) atas setiap makhluk yang ada di langit maupun di bumi ini hanya-lah hak Alloh saja Qs 7:54 / 67:1 / 25:2 / 5:120 / 20:114 / 23:116 / 6:18,61,73 / 10:65.

Sedangkan orang yang diberi otoritas (wewenang resmi) oleh Alloh SWT untuk mendirikan Lembaga Kerajaan / Lembaga Pemerintahan dan yang diberi legalitas untuk memimpin dan memerintah di planet bumi ini hanya-lah para Rosul-Nya (Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW) Qs 7:158 / 21:105 / 42:13 / 9:33 / 48:28 / 61:9. Yang kemudian dilanjutkan oleh Ulil amri-Nya (kholifah / imam / pimpinan Dinul Islam berikutnya) seperti; Abu Bakar Sidiq r.a, Umar bin Khotob r.a, Utsman bin Affan r.a, Ali bin Abi Tholib r.a, dan seterusnya hingga sekarang ini Qs 3:144 / 4:59 / 24:55.

Jika ada manusia yang mendirikan Lembaga Mulkiyah (Lembaga Kerajaan / Lembaga Pemerintahan) kemudian ia memimpin dan memerintah di muka bumi ini tanpa ada otoritas (wewenang resmi) dari Alloh SWT, maka itulah orang yang divonis sebagai Thogut (pemberontak / perebut hak Alloh). Qs 4:60,76. Mereka inilah yang dimaksud oleh Alloh SWT sebagai pembuat makar (pembuat kejahatan / pemberontak) yang sebenarnya terhadap hak dan kedaulatan Alloh SWT Qs 6:112,123 / 6:61 / 10:65.

Ciri-ciri keyakinan orang yang bertauhid Mulkiyah (meng-Esa-kan Alloh dalam hal Mulkiyah-Nya) adalah ia meyakini, mengakui dan menerima  bahwa   :

(a)   Tidak ada yang berhak menduduki jabatan sebagai Raja kecuali hanya Alloh Qs 67:1 / 20:114 / 23:116.

(b)   Tidak ada yang berhak menduduki jabatan sebagai Pimpinan kecuali hanya Alloh Qs 7:3 / 20:114 / 23:116 / 67:1.

(c)    Tidak ada yang berhak menduduki jabatan sebagai Penguasa kecuali hanya Alloh Qs 19:65  / 6:18,61,62,73 / 10:65 / 36:83.

(d)   Tidak ada yang berhaq menduduki jabatan sebagai Pemerintah (pemberi tugas dan amanat) kecuali hanya Alloh Qs 7:54 / 10:65 / 20:114 / 23:116 / 67:1.

(e)   Tidak ada yang berhak mendirikan Lembaga Mulkiyah (Lembaga Kerajaan atau Lembaga Pemerintahan) baik di langit maupun di planet bumi ini kecuali Alloh Qs 10:65 / 2:107 / 9:116 / 5:120 / 25:2 / 67:1.

Wujud Mulkiyah Alloh (Kerajaan atau Pemerintahan Alloh) di muka bumi:

(a)   Lembaga Risalah.

Yaitu lembaga kerajaan Islam atau pemerintahan Islam yang dipimpin langsung oleh para Rosul, dimana proses pemilihan dan pengangkatannya dilakukan secara langsung oleh Raja Tertinggi yakni oleh Alloh SWT, melalui mekanisme Mitsaqon Gholidho.

(b)   Lembaga Khilafah.

Yaitu lembaga kerajaan Islam atau pemerintahan Islam yang dipimpin oleh seorang kholifah, dimana proses pemilihan dan pengangkatannya dilakukan melalui mekanisme Majelis Syuro di tingkat dunia (Khilafah fil Ardl).

(c)    Lembaga Daulah.

Yaitu lembaga kerajaan Islam atau pemerintahan Islam yang dipimpin oleh seorang Imam, dimana proses pemilihan dan pengangkatannya dilakukan melalui mekanisme Majelis Syuro di wilayah negara bersangkutan.

Kita sebagai muslim wajib meyakini bahwa hanya Alloh saja-lah satu-satunya Dzat yang berhak mendirikan Lembaga Mulkiyah (Lembaga Kerajaan atau Lembaga Pemerintahan) baik di langit maupun di planet bumi ini. Dan hanya Alloh sajalah sat-satunya Dzat yang berhak menduduki jabatan sebagai Al-Malik (Raja, Pimpinan, Penguasa dan Pemerintah) di seluruh pelosok Jagat Raya ini. Di luar Alloh status jabatannya harus ada di bawah ke-raja-an, ke-pemimpin-an, ke-kuasa-an dan ke-pemerintah-an Alloh, yakni sebagai utusan-Nya, aparatur-Nya atau sebagai umat-Nya atau rakyat-Nya yang harus tunduk, patuh dan setia sepenuhnya kepada Alloh selaku Raja, Pimpinan, Penguasa dan Pemerintah (Al-Malik) yang sebenarnya..

Jika ada orang yang meyakini bahwa di luar Alloh ada yang berhak mendirikan Lembaga Mulkiyah (Lembaga Kerajaan atau Lembaga Pemerintahan) atau meyakini bahwa di luar Alloh ada yang berhak untuk menduduki jabatan sebagai Al-Malik (Raja, Pimpinan, Penguasa dan Pemerintah), maka ia dalam keadaan men-dua-kan dalam hal Mulkiyah-Nya atau yang dikenal dengan Musyrik Mulkiyah.

Ciri khas sikap orang yang beraqidah Mulkiyah atau bertauhid Mulkiyah adalah Ia akan menolak secara totalitas terhadap segala bentuk ajaran, ideologi, politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, Agama, pendidikan, pernikahan atau berkeluarga, moral, keta’atan dan tata cara ibadah yang diselenggarakan di bawah naungan Lembaga Mulkiyah Thogut (yakni; Lembaga Kerajaan atau Lembaga Pemerintahan yang menolak untuk tunduk, patuh dan taat secara totalitas terhadap ke-Mulkiyahan Alloh), selanjutnya ia hanya rela dan ridho untuk dibimbing ibadah kepada Alloh SWT secara totalitas dalam Agama Islam yang ada di bawah naungan Lembaga Mulkiyah Islam (Lembaga Kerajaan islam atau Lembaga Pemerintahan Islam).

Ingat..!!! harap diperhatikan..!! Bahwa hidup yang benar adalah hidup yang hanya dijadikan untuk ibadah secara totalitas kepada Alloh saja Qs 51:56, sedangkan ibadah yang benar hanyalah ibadah yang dilaksanakan dalam Agama Islam, sedangkan standar Agama Islam yang benar dari zaman Nabi Adam Alaihissalam hingga Nabi Muhammad SAW bahkan hingga akhir zaman hanyalah Agama Islam yang ada di bawah naungan Lembaga Mulkiyah yang haq, yakni dalam Lembaga Mulkiyah Islam (Lembaga Kerajaan Islam atau Lembaga Pemerintahan Islam). Sebagaimana firman Alloh SWT berikut ini:

¨bÎ) šúïÏe$!$# y‰YÏã «!$# ÞO»n=ó™M}$# 3 $tBur y#n=tF÷z$# šúïÏ%©!$# (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# žwÎ) .`ÏB ω÷èt/ $tB ãNèduä!%y` ÞOù=Ïèø9$# $J‹øót/ óOßgoY÷t/ 3 `tBur öàÿõ3tƒ ÏM»tƒ$t«Î/ «!$#  cÎ*sù ©!$# ßìƒÎŽ|  É>$|¡Ïtø:$# ÇÊÒÈ

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam, tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[189] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya Qs 3:19.

`tBur Æ÷tGö;tƒ uŽöxî ÄN»n=ó™M}$# $YYƒÏŠ `n=sù Ÿ@t6ø)ムçm÷YÏB uqèdur ’Îû ÍotÅzFy$# z`ÏB z`ƒÌÅ¡»y‚ø9$# ÇÑÎÈ

Barangsiapa mencari agama selain agama islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi Qs 3:85.

óOÏ%r’sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $Zÿ‹ÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏ‰ö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ * tûüÎ6ÏYãB Ïmø‹s9Î) çnqà)¨?$#ur (#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# Ÿwur (#qçRqä3s? šÆÏB tûüÅ2Ύô³ßJø9$# ÇÌÊÈ z`ÏB šúïÏ%©!$# (#qè%§sù öNßguZƒÏŠ (#qçR%Ÿ2ur $Yèu‹Ï© ( ‘@ä. ¥>÷“Ïm $yJÎ/ öNÍkö‰y‰s9 tbqãm̍sù ÇÌËÈ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, Yakni orang-orang yang memecah-belah agama mereka[1169] dan mereka menjadi beberapa golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka Qs 30:30-32.

[1168]  fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid (yakni; Agama Islam yang ada dibawah naungan Lembaga Mulkiyah Islam). Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, yakni tidak memeluk Agama Islam yang ada di bawah naungan Lembaga Mulkiyah Islam, maka hal itu tidaklah wajar, mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan Mulkiyah Thogut.

[1169]  Maksudnya: meninggalkan agama tauhid (agama Islam) yang ada dibawah naungan Lembaga Mulkiyah Islam dan menganut berbagai agama yang ada dibawah naungan Lembaga Mulkiyah Thogut..

Maksud ayat tersebut ditujukan kepada Agama Islam yang ada dibawah naungan Lembaga Mukiyah Alloh (Lembaga Kerajaan / Pemerintahan Islam) bukan ditujukan kepada Agama Islam yang ada dibawah naungan Lembaga Mulkiyah Thogut (Kerajaan atau Pemerintahan Thogut).

3.  Tauhid fii Uluhiyah.

Yaitu meng-Esa-kan Alloh dalam hal ibadah; pengabdian dan ketaatan kepada-Nya Qs 114:3.

Pengertian Uluhiyah.

Kata Uluhiyah berasal dari kata; Aliha – Ya’lahu – Ilaahan, yang berarti; yang dicintai (yang dipuja dan diagungkan), yang ditaati, yang dijadikan tempat pengabdian (tempat ibadah) dan yang dijadikan tujuan hidup.

Jagi yang dimaksud dengan Tauhid Uluhiyah adalah meyakini, mengakui dan menetapkan dalam hati bahwa langit dan bumi beserta seluruh isinya adalah merupakan hasil ciptaan dan milik Alloh SWT Qs 10:3,55 / 20:6, maka yang berhak untuk ditaati aturan dan kebijakan hukum-hukumnya oleh seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi ini adalah hanyalah hak Alloh saja Qs 16:52 / 39:11 / 40:14,65 / 3:18 / 6:3 / 17:44 / 22:18 / 24:41 / 7:59,206 / 16:2,49 / 40:62-66 / 18:110 / 20:14 / 21:25 / 98:5.

Jika ada makhluk atau manusia atau siapa saja yang meminta dirinya supaya ditaati setiap aturan dan kebijakan hukum-hukumnya, maka itulah yang dimaksud dengan Thogut (pemberontak / perebut hak Alloh). Sedangkan orang yang diberi legalitas (izin resmi) oleh Alloh SWT untuk supaya ditaati setiap aturan dan kebijakan hukum-hukumnya hanya-lah Rosululloh SAW dan Ulil amri-Nya (kholifah / imam / pimpinan Dinul Islam berikutnya) seperti; Abu Bakar Sidiq r.a, Umar bin Khotob r.a, Utsman bin Affan r.a, Ali bin Abi Tholib r.a, dan seterusnya hingga sekarang ini, selain itu tidak ada lagi yang diberi legalitas (Izin resmi) oleh Alloh SWT…..!!!  Qs 3:32,132 / 4:59,69,80 / 8:20,24,46 / 6:36.

Karena langit dan bumi beserta seluruh yang terkandung di dalamnya ini adalah merupakan hasil ciptaan dan milik Alloh SWT Qs 7:54 / 10:3,55 / 6:102 / 20:6, maka yang hak ditaati setiap aturan dan kebijakan hukum-hukumnya oleh seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi ini hanya-lah hak Alloh saja Qs 3:18 / 6:3 / 17:44 / 22:18 / 24:41 / 7:59,206 / 16:2,49 / 40:62-66 / 18:110 / 20:14 / 21:25 / 98:5 / 3:31,32,132 / 4:59,80 / 33:36.

Jika ada makhluk atau manusia atau siapa saja yang meminta dirinya supaya ditaati setiap aturan dan kebijakan hukum-hukumnya, maka itulah yang disebut dengan Thogut (Perebut Hak Alloh). Sedangkan makhluk atau orang yang diberi legalitas (izin resmi) oleh Alloh SWT untuk supaya ditaati setiap aturan dan kebijakan hukum-hukumnya hanyalah para Rosul-Nya (Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW) dan Ulil amri-Nya (kholifah / imam / pimpinan Dinul Islam berikutnya) seperti; Abu Bakar Sidiq r.a, Umar bin Khotob r.a, Utsman bin Affan r.a, Ali bin Abi Tholib r.a, dan seterusnya hingga sekarang ini Qs 3:32,132 / 4:59,69,80 / 8:20,24,46 / 6:36.

Ciri-ciri orang yang bertauhid (mengesakan Alloh) dalam hal Uluhiyah-Nya adalah ia meyakini dalam hatinya  bahwa   :

(a)   Tidak ada yang disembah (dibadahi) kecuali Alloh

(b)   Tidak ada yang dicintai (dipuja / diagungkan) kecuali Alloh.

(c)    Tidak ada yang ditaati kecuali Alloh

(d)   Tidak ada yang dijadikan tempat pengabdian / tempat berbakti kecuali Alloh

(e)   Tidak ada yang dibela kecuali Alloh.

(f)    Tidak ada yang dijadikan tujuan hidup kecuali Alloh.

Artinya kita sebagai muslim wajib meyakini bahwa hanya Alloh saja-lah satu-satunya Al-Malik (Raja, Pimpinan, Penguasa dan Pemerintah) yang hak disembah, dicintai, ditaati, dijadikan tempat pengabdian, dijadikan tempat berbakti dan yang hak dijadikan tujuan hidup oleh seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi ini.

Jika ada manusia beribadah; menyerahkan kecintaan, ketaatan, kesetiaan, loyalitas, pengabdian, bakti suci dan mencari tujuan hidup selain kepada Alloh, maka ia dalam keadaan men-dua-kan Uluhiyah-Nya atau Musyrik Uluhiyah.

Bahaya Musyrik:

Konsekuensi dan bahaya bagi orang yang musyrik (men-dua-kan Alloh / mempersekutukan Alloh), baik dalam hal Dzat-Nya, Sifat-Sifat-Nya, Asma’-Nya, Af’al-Nya, Rububiyah-Nya, Mulkiyah-Nya maupun dalam hal Uluhiyah-Nya:

  1. Membatalkan fitrah keimanan dan ke-Islaman seseorang.
  2. Divonis oleh Alloh sebagai makhluk yang sesat Qs 4:116.
  3. Merupakan perbuatan dzolim yang sangat besar kepada Alloh Qs 31:13.
  4. Merupakan perbuatan dosa yang terbesar dari segala bentuk dosa Qs 4:48.
  5. Apabila ia mati dalam keadaan musyrik, maka seluruh dosa-dosanya tidak akan diampuni Qs 4:48,116 / 22:31.
  6. Hapus seluruh nilai amal ibadahnya Qs 39:65 / 6:88.
  7. Haram masuk syurga Qs 5:72.
  8. Kekal di dalam Neraka Jahannam Qs 98:6.

Ciri khas orang yang dalam keadaan musyrik adalah ia sangat benci jika ajaran dan syari’at Alloh ditegakkan dalam sistem hidup bermasyarakat dan bernegara. Sebagaimana firman Alloh SWT berikut ini:

¨by‰ÉftGs9 £‰x©r& Ĩ$¨Y9$# Zourºy‰tã tûïÏ%©#Ïj9 (#qãYtB#uä yŠqßgu‹ø9$# šúïÏ%©!$#ur (#qä.uŽõ°r&

Sesungguhnya kamu akan mendapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman (beraqidah-tauhid) ialah orang Yahudi dan orang musyrik (orang yang bersekutu dengan thogut) Qs 5:82.

Yang dimaksud orang yang dalam keadaan musyrik di zaman para Nabi adalah seluruh manusia yang memeluk agama-agama yang ada dibawah naungan Lembaga Dinul Jahiliyah (Mulkiyah Thogut) dengan menolak untuk berhijrah ke dalam Agama Islam yang ada dibawah naungan Lembaga Dinul Islam (Mulkiyah Islam), mereka bersekutu dibawah naungan Lembaga Dinul Jahiliyah (Mulkiyah Thogut) kemudian menentang keras terhadap keberadaan sistem syari’at (perundang-undangan dan hukum) Alloh yang diselenggarakan di bawah naungan Lembaga Dinul Islam (Mulkiyah Islam), padahal mereka mengaku beragama Islam dan mengaku beriman kepada Alloh SWT.

Bentuk-Bentuk Kemusyrikan:

1.  Musyrik fii Dzat Alloh

Yaitu: meyakini, mengakui atau menerima bahwa diluar Alloh ada sesuatu yang memiliki titik sama, semisal, serupa atau setara dengan keberadaan Dzatiyah Alloh SWT.

2.  Musyrik fii Sifat Alloh.

Yaitu: meyakini, mengakui atau menerima bahwa diluar Aloh ada sesuatu yang memiliki titik sama, semisal, serupa atau setara dengan keberadaan Sifat kesempurnaan yang dimiliki oleh Dzat Alloh SWT.

3.  Musyrik fii Asma’ Alloh.

Yaitu: meyakini, mengakui atau menerima bahwa diluar Aloh ada sesuatu yang semisal atau setara dengan keberadaan Asma’ Alloh SWT dengan seluruh kesempurnaan-Nya.

4.  Musyrik fil Af’al Alloh.

Yaitu: meyakini, mengakui atau menerima bahwa diluar Aloh ada sesuatu yang semisal, serupa atau setara dengan Af’al (Pekerjaan) Alloh SWT.

5.  Musyrik fii Rububiyah Alloh.

Yaitu: meyakini, mengakui atau menerima bahwa diluar Aloh ada sesuatu yang semisal, serupa atau setara dengan ke-Rububiyahan Alloh SWT.

Bentuk-Bentuk Musyrik Rububiyah:

1.  Meyakini bahwaada Pencipta sesuatu selain Alloh.

  • Meyakini bahwa diluar Alloh SWT ada yang berhaq untuk menciptakan ajaran.
  • Meyakini bahwa diluar Alloh SWT ada yang berhaq untuk menciptakan pedoman hidup.
  • Meyakini bahwa diluar Alloh SWT ada yang berhaq untuk menciptakan syari’at (aturan / undang-undang).
  • Meyakini bahwa diluar  Alloh SWT ada yang berhaq untuk menciptakan dan menetapkan hukum.

2.  Meyakini bahwa ada Pemelihara sesuatu selain Alloh.

3.  Meyakini bahwa ada Pengatur sesuatu selain Alloh.
4.  Meyakini bahwa ada Pemilik sesuatu selain Alloh.
5.  Meyakini bahwa ada Majikan, Tuan atau Tuhan selain Alloh.

6.  Musyrik fii Mulkiyah Alloh.

Yaitu: meyakini, mengakui atau menerima bahwa diluar Aloh ada sesuatu yang semisal, serupa atau setara dengan ke-Mulkiyahan Alloh SWT.

Bentuk-Bentuk Musyrik Mulkiyah:

  1. Meyakini, mengakui atau menerima bahwa diluar Alloh SWT ada yang berhaq untuk menduduki jabatan sebagai Raja.
  2. Meyakini, mengakui atau menerima bahwa diluar Alloh SWT ada yang berhaq untuk menduduki jabatan sebagai Pimpinan.
  3. Meyakini bahwa diluar Alloh SWT ada yang berhaq untuk menduduki jabatan sebagai Penguasa.
  4. Meyakini, mengakui atau menerima bahwa diluar Alloh SWT ada yang berhaq untuk menduduki jabatan sebagai Pemerintah.
  5. Meyakini, mengakui atau menerima bahwa diluar Alloh SWT ada yang berhak untuk mendirikan Lembaga Mulkiyah (Lembaga Kerajaan atau Lembaga Pemerintahan) baik di langit maupun di planet bumi ini.

7.  Musyrik fii Uluhiyah Alloh.

Yaitu: meyakini, mengakui atau menerima bahwa diluar Aloh ada sesuatu yang semisal, serupa atau setara dengan ke-Uluhiyahan Alloh SWT.

Bentuk-Bentuk Musyrik Uluhiyah:

  1. Meyakini, mengakui atau menerima bahwa diluar Alloh ada yang haq untuk disembah (dibadahi).
  2. Meyakini, mengakui atau menerima bahwa diluar Alloh ada yang haq untuk dicintai (dipuja dan diagungkan).
  3. Meyakini, mengakui atau menerima bahwa diluar Alloh ada yang haq untuk ditaati aturan dan perintahnya.
  4. Meyakini, mengakui atau menerima bahwa diluar Alloh ada yang haq untuk dijadikan tempat pengabdian / tempat berbakti.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Arab Saudi

25 Januari 2010 pukul 1:09 PM | Ditulis dalam Daftar Artikel: | 3 Komentar

Jangan terkecoh dengan penampilan…. Tahukah pakaian yang dipakai oleh Abu Jahal dan pakaian yang dipakai oleh Rosululloh itu sama-sama Jubah. Sekarang ini sistem peradilan dan hukum yang diterapkan dalam Kerajaan Arab Saudi seperti menerapkan syari’at Islam padahal itu semua tipuan belaka. Bentuk Negara Saudi ialah Kerajaan (Monarchi) yang dikolaborasikan dengan sistem sosialis-Islam. Sekarang Institusi Daulah Islamiyah / Khilafah Islamiyah sedang mengalami vocum off power tapi bukan berarti tidak ada; Ada tapi masih dalam tahap perjuangan sedang menyongsong Futuh. Amiin..

Sistem peradilan dan hukum yang diterapkan dalam Kerajaan Saudi Arabia ada kesamaan dengan sistem yang diterapkan oleh Nenek moyangnya; Khuzaah s/d Abu Jahal Cs. Rekomendasi selengkapnya ada disini:

http://faaqihgroup.wordpress.com/2009/05/05/arab-saudi/

STRUKTUR LEMBAGA DINUL JAHILIYAH MEKKAH

24 Januari 2010 pukul 8:40 AM | Ditulis dalam Daftar Artikel: | 4 Komentar

Gambaran Struktur Lembaga Dinul Jahiliyah Mekkah.

Nabi Ibrohim Alaihissalam ialah Rosul Alloh berikutnya yang diberi amanah supaya memimpin dan menegakkan Dinul Islam di muka bumi ini yang berpusat di wilayah Mekkah – Jazirah Arab Qs 2:124-141 / 42:13. Beliau bersama putranya diperintahkan oleh Alloh SWT supaya membangun Ka’bah sebagai pusat ibadah ritual bagi kaum muslimin saat itu, sejak itulah Nabi Ibrohim AS dan kaum muslimin diperintahkan oleh Alloh SWT supaya menjalankan rangkaian ibadah haji secara turun temurun hingga sekarang ini.

Setelah Nabi Ibrohim Alaihissalam wafat kemudian kepemimpinan Dinul Islam dilanjutkan oleh putranya yakni oleh Nabi Ismail Alaihissalam. Setelah Nabi Ismail wafat kemudian kepemimpinan Dinul Islam dilanjutkan oleh para Nabi dan Kholifah Islam berikutnya. Namun setelah kepemimpinan jatuh ke tangan Khuza’ah; pilar-pilar Dinul Islam (Sistem Islam / Sistem Pemerintahan Islam) diruntuhkannya dan dicampuradukan dengan ajaran monarchi, padahal Khuza’ah berserta seluruh warganya merupakan keturunan Nabi Ibrohim AS yang masih menganut Agama Islam Turunan (Islam Millah Ibrohim).

Maka sejak kepemimpinan Khuza’ah-lah konstitusi, pilar-pilar dan aspek-aspek Dinul Islam (Sistem Pemerintahan Islam) yang telah dibangun oleh Nabi Ibrohim As dihancurkannya kemudian diganti dengan sistem pemerintahan non Islam (Dinul Jahiliyah) yang berpedoman kepada ajaran monarchi. (Baca Sejarah Singkat Nabi Muhammad SAW Dalam Al-Qur’an dan Terjemah Departemen Agama RI, Edisi Baru Revisi Terjemah 1989, hal 53).

Setelah kaum Khuza’ah berkuasa memerintah secara turun temurun, kira-kira pada abad ke 5 M, kepemimpinan Dinul Jahiliyah Mekkah direbut oleh Qushoyy (Buyut Nabi Muhammad SAW). Ia merupakan seorang pemimpin dari kaum Quraisy yang masih memiliki garis keturunan dengan Nabi Ibrohim AS. Ia merupakan penganut Agama Islam Turunan (Islam Millah Ibrohim), namun dalam bidang politik (kepemimpinan dan pemerintahan) ia menerapkan ajaran demokrasi. Ia membagi-bagikan kekuasaan diantara pemimpin kaum Quraisy – Mekkah. Untuk memusyawarahkan dan memutuskan segala urusan masyarakat dan negaranya, kemudian ia mendirikan sebuah Lembaga Majelis Permusyawaratan yang diberi nama “Darun Nadwah”. Di tempat inilah ia memulai membentuk parlemen / majelis kabinet kementrian Negara Jahiliyah Mekkah dengan berpedoman kepada undang-undang dan hukum yang bersumber dari nenek moyang mereka (Non Wahyu) Qs 2:170 / 4:61 / 5:50,104 / 2:42 / 43:23.

Darun Nadwah adalah merupakan nama sebuah Lembaga Majelis Permusyawaratan Rakyat yang ada dalam naungan Negara Jahiliyah (Dinul Jahiliyah) Mekkah yang fungsinya setara dengan MPR di Indonesa yakni; sebagai tempat untuk memusyawarahkan dan memutuskan segala urusan Ad-Din (kenegaraan / pemerintahan), seperti memusyawarahkan masalah; ideologi, politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, agama, pendidikan, perkawinan, kesehatan, akhlak / moral, waris, denda, hankam / militer, perang, ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan lain sebagainya.

Pada masa pemerintahan Qushoyy telah dibentuk enam majelis kabinet kementrian yakni; As-Siqoyah, As-Sidanah, An-Nadwah, Al-Qiyadah dan Al-Iqobah (A-Liwa’). Setelah kepemimpinan Dinul Jahiliyah Mekkah dijabat oleh Abdu Manaf (putra Qushoyy), struktur kabinet kementriannya ditambah beberapa majelis lagi, kemudian pada masa kepemimpinan Din Jahiliyah Mekkah telah pindah ke tangan Hasyim, maka ditambah lagi menjadi 15 majelis kabinet kementrian, setiap majelis diketuai oleh seorang dari ketua kaum Quraisy sendiri. Adapun nama-nama majelis tersebut adalah sebagai berikut:

(1) As-Siqoyah.

Adalah majelis yang mengurus urusan air minum, terutama untuk para jama’ah haji yang datang dari luar negeri. Majelis ini merupakan majelis terpenting karena urusan air ini bukan urusan mudah, terutama di wilayah Negara Mekkah yang tandus. Atas usaha majelis inilah telaga zam-zam yang terkenal itu ditemukan kembali, yang mulanya telah terbenam, lalu digali kembali dan diperbaikinya. Disamping itu, majelis ini berusaha membuat kolam-kolam yang terbuat dari kulit, lalu diletakkan di halaman Ka’bah yang mana airnya diambilkan dari perigi-perigi dari Bani Hasyim.

(2) Ar-Rifadoh.

Adalah majelis yang mengurus makanan terutama jamuan (logistik) bagi para jama’ah haji yang datang dari luar negeri. Adapun biaya untuk kepentingan ini dipungut setiap tahun dari segenap kepala suku bangsa Quraisy. Majelis ini diketuai oleh seseorang dari Bani Naufal, kemudian selanjutnya dipindahkan ke tangan seseorang dari Bani Hasyim.

(3) Al-Imroh.

Adalah majelis yang memelihara kehormatan Ka’bah di Masjidil Haram dan menjaga ketentramannya. Seseorang tidak diperkenankan mengeluarkan perkataan yang kotor dan tidak boleh meninggikan suara di dalam mesjid terutama di sekitar Ka’bah. Majelis ini diketuai oleh seorang dari Bani Hasyim juga.

(4) As-Sidanah.

Adalah majelis yang mengurus masalah keamanan rumah suci Ka’bah dan memegang kuncinya. Orang yang mengetuai majelis ini ialah orang yang dipandang lebih tinggi kedudukannya dan terhormat dari yang mengetuai majelis-majelis lainnya karena dialah yang berkuasa untuk membuka dan mengunci rumah suci itu, majelis ini dinamakan juga Al-Hijabah. Majelis ini diketuai oleh seseorang dari Bani Abdu Dar.

(5) An-Nadwah.

Adalah majelis yang mengurus masalah politik (ketatanegaraan; kedaulatan, kepemimpinan dan pemerintahan). Majelis ini setara dengan departemen atau kabinet menteri politik dan hukum di Indonesia. Majelis ini diketuai oleh seseorang dari Bani Abdu Dar juga.

(6) Al-Musyawaroh.

Adalah majelis yang berfungsi sebagai tempat untuk berkumpulnya segenap ketua dan pejabat Dinul Jahiliyah Mekkah (setara dengan MPR / DPR dalam Din RI). Majelis ini diketuai oleh seseorang dari Bani Asad.

(7) Al-Asynaq.

Adalah majelis yang mengurus tanggungan jiwa dan harta benda (asuransi jiwa dan harta), misalnya urusan membayar denda karena kesalahan membunuh orang. Majelis ini diketuai oleh seseorang dari Bani Taim.

(8) Al-Qubbah.

Adalah majelis yang mengurus genderang perang. Jika ketua majelis ini telah memukul genderang, maka segenap penduduk terutama kaum Quraisy (Warga Din Jahiliyah) Mekkah harus bersiap-siap untuk menyiapkan perlengkapan perang. Majelis ini diketuai oleh seseorang dari Bani Makhzum.

(9) Al-A’innah.

Majelis yang mengurus urusan pasukan berkuda dan kendaraan lainnya untuk keperluan perang. Majelis ini diketuai oleh seorang dari Bani Makhzum pula.

(10) As-Sifaroh.

Adalah majelis yang mengurusi masalah perwakilan negara yang berfungsi untuk membuat perdamaian dengan bangsa / golongan lain, baik dalam negeri maupun luar negeri. Majelis ini diketuai oleh seorang dari Bani Ady.

(11) Al-Aisar.

Adalah majelis yang mengurus masalah panah-panah suci yang digunakan untuk undian (Voting) yang dilakukan di depan berhala. Jika terjadi pertikaian atau persengketaan antar sesama warga Din Jahiliyah Mekkah (golongan Quraisy). Seperti perang saudara yang telah terjadi antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah, lalu diadakan undian dan suatu keputusan, maka urusan tersebut diserahkan kepada majelis ini. Majelis ini diketuai oleh seorang dari Bani Jamuh.

(12) Al-Amwalul Muhajjah.

Adalah majelis yang mengurus urusan harta yang dikumpulkan untuk kepentingan rumah suci dan berhala. Urusan ini serupa dengan pajak dalam di Indonesia. Majelis ini diketuai oleh seseorang dari Bani Saham.

(13) Al-Iqobah.

Adalah majelis yang mengurus urusan bendera Din Jahiliyah Mekkah yang akan dikeluarkan dan dikibarkan bila mereka hendak keluar pergi berperang. Apabila bendera itu telah keluar dan berkibar, maka segenap warga Din Jahiliyah Mekkah harus siap sedia untuk keluar pergi berperang melawan musuh demi keutuhan dan keselamatan Negara Kesatuan Republik Jahiliyah (Dinul Jahiliyah) Mekkah. Majelis ini diketuai oleh seorang dari Bani Umayyah.

(14) Al-Khizanah.

Adalah majelis yang mengurus masalah perbendaharaan dan keuangan Negara atau Din Jahiliyah Mekkah. Majelis ini diketuai oleh seorang dari Bani Saham.

(15) Al-Qiyadah.

Adalah majelis yang mengurus masalah komandan perang yakni masalah ketentaraan dan kepolisian. Majelis ini diketuai oleh seorang dari Bani Umayyah. Mereka berjuang di jalan thogut demi keutuhan dan keselamatan Negara Kesatuan Republik Jahiliyah (Din Jahiliyah) Mekkah – Arab Qs 4:76.

Demikian nama-nama majelis yang telah dibentuk oleh Pemerintah Negara (Din) Jahiliyah Mekkah di bawah kepemimpinan Qushoyy, Abdu Manaf, Hasyim, Abdul Mutholib (kakek Nabi SAW) serta berikutnya dilanjutkan oleh Abu Hakam Bin Hisyam (Abu Jahal), Abu Lahab dan terakhir oleh Abu Sofyan.

Dalam sejarah diungkapkan bahwa agama mayoritas yang dianut oleh warga Din Jahiliyah Mekkah adalah Agama Islam Turunan (Islam Millah Ibrohim), yakni Agama Islam yang ada dibawah naungan Pemerintahan Negara (Din) Jahiliyah Mekkah Qs 2:124-141, bahkan para pejabatnya pun beragama yang sama, tapi dalam urusan Rububiyah (aturan dan hukum) dan dalam urusan Mulkiyah (kepemimpinan dan pemerintahan) mereka menganut ajaran demokrasi (Baca Sejarah Singkat Nabi Muhammad SAW dalam Al-Qur’an & Terjemah Depag RI, Edisi 1989, hal 53).

Elemen (Komponen) Masyarakat Jahiliyah Mekkah – Arab.

Penduduk masyarakat Jahiliyah Mekkah dan Jazirah Arab adalah merupakan kumpulan masyarakat yang majemuk dan pluralis, yakni terdiri dari berbagai kabilah, suku, bani (keturunan), agama dan beraneka ragam adat serta budaya. Sedangkan agama yang dianut oleh masyarakat Arab adalah;

(1) Agama Islam (Islam Millah Ibrohim) atau agama nenek moyang atau amama Islam turunan Qs 2:124-141, yaitu ajaran Alloh yang di Wahyukan kepada Nabi Ibrohim AS kemudian dilanjutkan oleh Nabi Ismail AS dan dianut oleh mayoritas penduduk Arab secara turun temurun hingga ke masa diangkatnya Kerosulan Muhammad SAW4. Agama tersebut dianut oleh mayoritas masyarakat Arab termasuk dianut juga oleh keluarga besar Nabi SAW dan Abu Jahal Cs, tapi keberadaan Agama Islam tersebut sudah keluar dari payung hukum utama, yakni keluar dari naungan Dinul Islam kemudian pindah ke dalam naungan Dinul Jahiliyah Mekkah dikarenakan Pemerintahan Islamnya sudah dihancurkan oleh Pemerintah Thogut.

Berikut ini ciri-ciri pemeluk Agama Islam Turunan (Islam Millah Ibrohim) yang ada dibawah naungan Lembaga Dinul Jahiliyah Mekkah;

(a) Karena mayoritas penduduk bangsa Arab telah beragama Islam turunan (Islam Millah Ibrohim), sehingga nama-nama mereka pun sangat erat dengan nama-nama yang Islami, seperti; Muhammad, Ahmad, Abdulloh, Aminah, Khodijah, dan lain-lain.

(b)  Mereka mengaku beriman kepada Alloh, buktinya apabila mereka ditanya; “Siapa pencipta langit dan bumi, siapa yang memberi rezeki kepadamu, siapa pemilik alam semesta dan siapa yang berhak mengatur segala sesuatu ?” Pasti mereka menjawab; “Alloh”. Simak Qs 10:31 / 43:86,87 / 23:84-87.

(c)  Setiap mengikrarkan sumpah, mereka sering mengawalinya dengan kalimat “Demi Alloh”, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam upacara penting kenegaraan. Simak Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW, KH. Moenawar Cholil dan Sirah Nabawiyah.

(d)  Melakukan sholat disekitar Ka’bah, tapi sholat mereka dinilai oleh Alloh bagaikan siulan dan tepuk tangan belaka (sia-sia tanpa pahala) Qs 8:35.

(e)  Melakukan do’a, dzikir dan tawasulan, istighosah; taqorub ilalloh demi untuk mendekatkan diri kepada Alloh (Qs 29:65 / 39:3.

(f)  Berinfaq seperti halnya sekarang, tapi infaqnya diserahkan kepada amilin (BAZIS) yang ada dibawah naungan Dinul Jahiliyah yang dipimpin oleh Abu Jahal Cs, bukan diserahkan kepada amilin (BAZIS) yang ada dibawah naungan Dinul Islam yang dipimpin oleh Rosululloh SAW Qs 8:36.

(g)  Mendirikan dan memakmurkan mesjid Qs 2:114 / 9:107-110 / 9:17-19.

(h)  Pada tiap musim haji, mereka pun menyelenggarakan ibadah haji seperti yang telah disyari’atkan oleh Nabi Ibrohim AS, walaupun dalam pelaksanaannnya telah banyak penyimpangan. Simak Qs 2:158 / 3:96-99 /  9:19.

(i)  Mereka mengaku beriman Qs 10:31 / 43:86,87 / 23:84-87, dan tetap setia dengan ajaran Agama Islam yang ada dibawah naungan Dinul Jahiliyah Mekkah yang dipimpin oleh Abu Jahal Cs. Mereka menolak untuk hijrah ke dalam Agama Islam yang ada dibawah naungan Dinul Islam yang dipimpin oleh Rosululloh SAW dengan alasan sudah merasa benar dengan Agama Islam Turunan yang telah lama dianutnya secara turun temurun.

Kelompok penganut agama Islam Turunan (Islam Millah Ibrohim) atau agama nenek moyang ini disebut dalam Al-Qur’an dengan sebutan Al-ladzina Amanu, seperti terdapat dalam firman Alloh berikut ini;

Sesungguhnya orang-orang beriman (pemeluk Agama Islam yang ada dibawah naungan Din Jahiliyah), orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Sabi’in, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati Qs 2:62.

Silahkan simak pula firman Alloh SWT yang menerangkan tentang mereka dalam Al-Qur’an surat 2:130-140 / 3:95 / 4:125 / 6:161 / 16:123 / 5:69 / 22:17.

(2) Agama Yahudi, yaitu agama legal / resmi yang ada dibawah naungan Dinul Jahiliyah Mekkah yang dianut oleh Bani Isra’il. Mereka meyakini bahwa Uzair itu putra Alloh Qs 9:30, kemudian mereka merubah dan menyimpangkan Kitab Tauret yang telah diwahyukan Alloh kepada Nabi Musa AS Qs 3:4 / 5:12-19 / 21:48 / 32:23.

Kata “Yahudi” diambil dari nama putra Nabi Ya’qub yang berpengaruh dan popular di zamannya, yaitu Yahuda. Seluruh putra keturunan Nabi Ya’qub disebut “Bani Israel” artinya keturunan Israel. Kata Israel berasal dari kata “Isra” yang berarti perjalanan malam hari. Nama Israel diambil dari suatu peristiwa mereka ketika pergi ke Mesir untuk menemui adiknya; Nabi Yusuf AS yang dilakukan pada malam hari. Yahudi sebenarnya bukan nama agama yang dianut oleh Nabi Musa AS, melainkan sebutan jama’ah sebagai tali pengikat Bani Israel. Agama yang dianut oleh Nabi Musa, Nabi Ya’qub, Nabi Ishak dan Nabi Ismail adalah Islam Qs 2:132-133 / 42:13. Kaum atau bangsa Yahudi ialah kelompok masyarakat jahiliyah yang berpengaruh di tanah Arab terutama di Yatsrib. Mereka menentang keras terhadap keberadaan Dinul Islam (Sistem Islam / Pemerintahan Islam) yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW.

(3) Agama Nasroni (Kristen), yaitu agama legal / resmi yang ada dibawah naungan Dinul Jahiliyah Mekkah yang dianut oleh Bani Isra’il. Mereka meyakini bahwa Nabi Isa ialah putra Alloh Qs 9:30 yang kemudian mereka merubah dan menyimpangkan Kitab Injil yang telah diwahyukan Alloh kepada Nabi Isa AS Qs 3:4 / 5:12-19,46.5

Sifat dan sikap orang Nasroni sama dengan orang Yahudi; yakni sama-sama menentang terhadap keberadaan Dinul Islam (Sistem Islam / Pemerintahan Islam) yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW, walaupun antara mereka saling menuduh sesat Qs 2:11-113, bedanya hanya dari penyebutan nama Nasroni saja. Kata Nasroni banyak sumber yang mengatakan berasal dari Nazaret tempat lahirnya Nabi Isa AS, namun ada juga yang mengatakan berasal dari kata “Nashoro”. Nashoro artinya penolong. Nama agama ini diambil dari peristiwa sahabat Nabi Isa AS yang disebut Hawariyyin. Mereka ialah sahabat dekat dan pembela Nabi Isa AS. Kelompok Hawariyyin ini merupakan pembela dan penolong utama perjuangan Nabi Isa AS dalam memperjuangkan tegaknya Dinul Islam pada zamannya Qs 5:111-112 / 42:13. Namun setelah Nabi Isa AS diangkat oleh Alloh SWT ke langit, Kitab Injil yang ditinggalkan oleh beliau dirubah oleh umatnya sendiri (Bani Isra’il) sehingga isinya tidak sesuai lagi dengan aslinya dan nama agamanya pun dirubah menjadi Nasroni atau yang dikenal sekarang agama kristen.

(4) Agama Majusi, yaitu agama penyembah api (Zoroaster).

Yaitu; orang-orang yang menyembah api atau pemuja dan pengagung benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan dan nilai lebih atau yang dikenal dengan sebutan agama Dinamisme.

(5) Shabi’in, yaitu penyembah kekuatan alam.

Yaitu; orang-orang yang menyembah kekuatan alam atau pemuja dan pengagung kehebatan alam, roh nenek moyang atau yang dikenal dengan sebutan agama Animisme.

(6) Dan kaum musyrikin lainnya (kaum yang bersekutu dan bernaung dibawah Lembaga Dinul Jahiliyah Mekkah).6

Yaitu orang-orang penyembah; pemuja dan pengagung berhala atau patung yang mereka buat sendiri; seperti hindu, budha,  kong hu chu dan lain-lain atau yang dikenal dengan sebutan agama Paganisme.


4 Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW, KH. Moenawar Cholil, Jilid 1, hal 20.

5 Agama Islam turunan (Islam Millah Ibrohim) adalah Agama mayoritas sedangkan agama Yahudi, Nasrani, Majusi, Sabi’in, dll merupakan agama minoritas yang dianut oleh penduduk bangsa Arab, dikutif dari Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW, KH. Moenawar Cholil, Jilid 1, hal 24.

6 Data Gambaran Kronologis Terbentuknya Lembaga Dinul Jahiliyah (Pemerintahan Jahiliyah) Mekkah ini dikutif dari Sejarah Ringkas Nabi Muhammad SAW, Al-Qur’an & Terjemahnya Departemen Agama RI, Edisi Baru Revisi Terjemah 1989, hal 53 dan Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW, KH. Moenawar Cholil, Jilid 1, hal 37-58 dan 402.

.

Buat website atau blog gratis di WordPress,com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: